Nekat Berbeda Masuk Pesantren

Nekat Berbeda Masuk Pesantren

“Nekat dan Berbeda.” Topik inilah yang akan menjadi inti dari kisah dan pengalaman saya kali ini.

Kedua kata tersebut, pasti tidak asing bagi telinga kita. Sayangnya, lebih sering dikonotasikan sebagai sebuah hal yang negatif. Padahal tidak selalu demikian.

Nekat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri, dapat diartikan sebagai sebuah sikap berkeras hati, bersikeras atau tetap tidak mau menyerah. Jadi tidak benar opini yang menyatakan nekat itu selalu buruk.

“Justru dalam hal dan konteks tertentu, nekat itu dibutuhkan.”

Parameter suatu tindakan bisa dianggap nekat juga sangat subjektif. Penilaian setiap individu pasti berbeda. Tindakan yang menurut saya biasa-biasa saja,. Mungkin, menurut orang lain bisa dianggap nekat atau sebaliknya.

“Selain nekat, berbeda juga sering kali dikonotasikan negatif oleh masyarakat.”

Akibat berbeda dari masyarakat pada umumnya, seringkali seseorang menjadi pusat perhatian. Perbedaan sering kali dianggap tidak wajar. Padahal berbeda itu adalah sunnatullah, suatu hal yang wajar dan pasti selalu ada.

Nekat Berbeda

“Entah mengapa, saya rasa kok saya ini sering sekali memilih berbeda? Bahkan kadang cenderung nekat.”

Bisa dibilang nekat, karena saya sering memilih berbeda dari pilihan kebanyakan orang-orang disekiling saya. Beberapa kenekatan saya untuk berbeda pun mengajarkan beberapa hikmah.

Disaat teman-teman sekolah ingin eksis di organisasi sekolah. Saya memilih untuk tidak masuk ke dalamnya, walaupun telah ditawari oleh kakak kelas dan guru pembina. Waktu itu saya kurang sreg dengan track record beberapa personil yang ada didalamnya.

“Dari kejadian itu saya kemudian belajar, bahwa tindakan yang saya lakukan itu kurang tepat. Saya terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain. Hanya bisa berpangku tangan, padahal menginginkan adanya suatu perubahan.

Ketika orang lain mati-matian ingin masuk ke jurusan IPA, saya malah memilih jurusan IPS. Padahal nilai IPA saya lebih bagus dibandingkan nilai IPS. Alasan saya waktu itu, karena ingin ikut olimpiade ekonomi dan berencana untuk melanjutkan pendidikan ke bidang ilmu sosial.

Jadi pikir saya, masak iya saya harus memilih IPA hanya demi prestise dimata orang lain. Sebuah tindakan yang nggak banget menurut saya.

Waktu mau melanjutkan ke perguruan tinggi juga sama. Ketika orang lain mati-matian ingin masuk  ke perguruan tinggi negeri, saya memilih masuk ke perguruan tinggi swasta. Padahal waktu itu saya juga sudah lolos masuk ke sebuah perguran tinggi negeri di Semarang.

Lumayan bimbang saya saat itu. Tapi, lagi-lagi saya harus memilih. Memilih gensi atau memilih suatu hal yang sekiranya lebih tepat bagi kita.

Dan ini adalah kisah yang terakhir sekaligus terbaru, dari kenekatan saya untuk berbeda lagi. Lumayan lama saya mempertimbangkannya. Pro kontra dari masukan teman-teman adalah suatu hal yang biasa.

Saya memutuskan untuk cuti kuliah, padahal skripsi sudah sampai Bab III. Orang tua, dosen pembimbing dan teman-temanpun sempat heran, kaget dan bertanya-tanya akan pilihan saya ini.

Hal yang membuat mereka lebih terkejut lagi adalah alasan saya memilih cuti. Saya ingin mengikuti program sebuah pesantren di daerah Magetan.

“Iya saya memutuskan cuti untuk masuk pesantren.”

Sebuah keputusan terhadap pilihan yang seharusnya tidak bakal pernah terbesit dalam pikiran saya. Latar belakang keluarga saya bukan orang pesantren. Bahkan dari latar pendidikan, saya malah alumni dari Sekolah Yayasan Pangudi Luhur.

“Inilah pilihan saya.”

Walapun terkadang rasa bimbang itu menghantui ketika ingin memutuskan untuk berbeda. Tapi saya berusaha meyakinkan diri sendiri, bahwa berbeda itu adalah suatu hal yang biasa.

Jangan terlalu hiraukan orang lain. Karena sebenarnya, saya sendirilah yang lebih kenal dan lebih mengetahui tentang kebutuhan dan kemampuan saya.

“Bismillah, semoga pilihan saya ini tepat! Semoga ini adalah jalan saya untuk mencapai target yang sudah saya buat sebelumnya. Serta bisa membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Aamiin.”

Pesantren Sintesa

Pesantren sintesa termasuk pesantren baru, didirikan tahun 2015. Terletak di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Pesantren ini berfokus pada Al-Qur’an dan bisnis online.

Walaupun pesantren ini masih seumur jagung usianya, tetapi santri Sintesa sudah berasal dari berbagai daerah. Mulai dari pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan tentu saja pulau Jawa.

Hebatnya lagi, semua ilmu dan fasilitas yang diterima santri disini tidak dipungut biasa.

“Iya, pesantren ini gratis. Kita sebagai santri tinggal belajar saja.”

Alasan Saya Memilih Sintesa

Sebenarnya saya hanya ingin mencari tempat yang bisa memfasilitasi dan mendampingi saya, untuk lebih mandiri dan berkarakter lebih baik lagi.

“Pada awalnya saya tidak ada rencana cuti untuk masuk pesantren.”

Pertama. Program belajar di pesantren itu biasanya memakan waktu yang tidak sebentar, minimal harus tinggal selama 3 tahun. Saya sendiri kurang bisa kalau harus selama itu. Faktor usia menjadi kendalanya. 🙂 🙂 🙂

Kedua. Saya mencari program yang terjangkau biayanya, sehingga bisa menggunakan uang sendiri tanpa harus minta orang tua. “Malulah dengan umur.”. syukur-syukur bisa mendapatkan beasiswa.

Tetapi berdasarkan informasi yang saya peroleht, beasiswa pesantren kebanyakan belum mengakomodir calon seperti saya. Lha ilmu agamanya saja masih dasar, belum lagi syarat hafalan Al-Quran yang harus berjuz-juz.

“Maslah Bbca Al-Quran, baru bisa asal bunyi dulu. Jangan tanyakan soal tajwid dan mahrajul hurufnya! Pasti bisa ditebaklah. 🙂 🙂 :)”

Alasan ketiga adalah terkait dengan sistem belajar pesantren. Sistem belajar pesantren terkenal padat dan ketat. Hari-hari diisi dengan belajar, waktu luang yang ada bisa dibilang sempit.

Tentu saja kalau waktu luang yang ada sempit, kemungkinan saya untuk kerja sambilan sangat kecil kemungkinannya. “Masak iya untuk hidup sehari-hari harus mengandalkan orang tua?”

= = =

Alhamdullillah, semua hambatan saya itu mendapatkan solusinya di Sintesa. Maka saya kemudian memutuskan untuk bergabung. Walaupun sekali lagi, bisa dibilang nekat.

Nekat masuk lembaga pendidikan berbasis pesantren, dengan bekal basik ilmu agama yang pas-pasan. Nekat pula, masuk ke lembaga yang berfokus ke bisnis online, padahal dasar ilmu bisnis online saja saya belum tahu.

Semua dimulai dari nol. Hanya harapan untuk bisa memiliki kepribadian yang lebih baik serta mempunyai kemandirianlah yang menjadi bekal saya.

Sosok Pendiri Sintesa

Pesantren Sintesa didirikan oleh Ibrahim Vatih, kami para santri biasa memanggil beliau Mas Vatih. Bagi yang belum kenal, kenalilah lebih jauh beliau melalui tulisannya di vatih.com.

Saya sendiri tertarik dengan program-program sintesa ya karena stalking tulisan-tulisan beliau. Terutama tulisan terkait sistem belajar mulazamah. Sistem belajar pada ahlinya secara intens.

Mas Vatih dikenal sebagai seorang praktisi digital marketing. Kerap menjadi pembicara utama di berbagai seminar/workshop Internet Marketing. Sudah tidak diragukan lagi kemampuan beliau, khususnya dalam bidang SEO (Search Engine Optimization).

Beliau terkenal sangat suka berbagi. Bahkan sangat tidak takut dan tidak khawatir dirinya akan kekurangan dengan berbagi. Salah satu bukti kegemaran berbagi beliau ya lewat pesantren sintesa ini.

Mas vatih membagikan ilmunya secara cuma-cuma. Tidak hanya itu, bahkan biaya hidup kami sebagai santripun beliau yang tanggung.

Poin Positif Sintesa

“Tentu saja, ilmu spiritualitas dan kemandirian finansial adalah poin plus dari sintesa.”

Sesuai dengan tulisan Mas Vatih yang pernah saya baca, tujuan beliau mendirikan Sintesa ya seperti itu. Memberdayakan masyarakat dan mengangkat derajat mereka tanpa mengesampingkan aspek spiritualitas.

Tapi disamping itu, sintesa sangat cocok dan terbuka untuk menfasilitasi mereka-mereka yang ingin merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Seperti apapun latar belakang kita, bahkan bagi mereka yang ilmu agamanya masih kosong seperti saya.

Dan yang paling penting, peraturan di Sintesa tidak seketat peraturan pesantren pada umumnya. Kita para santri bahkan boleh menggunakan HP. Sehingga santri yang berlatar belakang masyarakat umum pun tidak sampai merasa terkekang bagaikan tepenjara di penjara suci. 🙂 🙂 🙂

Leave a Comment