✓ Cara Menulis Cerpen Berkualitas Dilengkapi Contoh Cerpen Singkat Terbaik

Kumpulan Contoh Cerpen Singkat Terbaik Juara Tingkat Nasional- Hallo sahabat Puspa (Pusat Pandang), terima kasih kalian telah setia untuk selalu berkunjung dan membaca tulisan tim Puspa.

Pada kesempatan kali ini, Puspa akan berusaha mengupas secara tuntas perihal bagaimana cara penulisan cerita pendek yang baik beserta contoh-contoh cerpen singkat yang telah menang perlombaan sastra Indonesia tingkat nasional.

“Jangan lupa klik share ya!”

Ooo… iya, jika kamu punya hobby menulis cerita atau justru kamu seorang penulis. Kalian bisa lho mempublikasikan hasil karyamu disini, sehingga karya tulismu bisa dibaca oleh banyak orang dari seluruh Insonesia.

“Santai saja,  caranya mudah dan gratis kok! Langsung saja hubungi admin Puspa ya!”

Besar harapan kami, kedepannya tulisan yang berhasil dihimpun oleh tim Puspa dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat serta dapat ikut berkontribusi meningkat literasi sastra berkualitas di Indonesia.

Langsung saja kita simak, semoga tulisan ini bisa menjadi media pembelajaran yang postif dalam mengasah kreativitas dan pengembangan bakat serta minat anak-anak Indonesia.

 

Pengertian Cerita Pendek (Cerpen) Menurut Para Ahli

Definisi Cerpen berdasarkan KBBI adalah sebuah karya tulis pendek mengenai kisah suatu tokoh yang isinya tidak lebih dari 10.000 kata. Sedangkan beberapa tokoh senior dalam dunia sastra Indonesia mendefinisikan cerpen sebagai berikut:

  • Menurut J. S. Badudu, cerpen adalah sebuah cerita singkat yang hanya berfokus pada satu kejadian saja.
  • Menurut Hendy, cerpen merupakan suatu kisah dalam bentuk tulisan yang berisi kisah tunggal yang tidak terlalu panjang jalan ceritanya.
  • Menurut Nugroho Notosusanto, cerpen ialah suatu cerita singkat yang ditandai dengan panjang cerita tidak lebih dari 5 ribu kata, jumalah halaman cerpen tidak lebih dari 17 halaman, menggunakan spasi rangkap, dan kisah memusat ke satu orang.

 

Ciri-Ciri Cerpen

Untuk dapat menulis cerpen dengan baik, maka penting bagi kita untuk mengetahui ciri-ciri cerpen berkualitas. Sehingga cerita yang kita hasilkan bisa enak dinikmati oleh para pembacanya. Berikut poin-poin cerpen yang harus diperhatikan:

  • Alur cerita tunggal dan tidak berubah-ubah.
  • Jalan cerita cerpen cenderung lebih singkat apabila dibandingkan dengan novel.
  • Dalam sebuah cerita, jumlah kata yang digunakan dalam cerpen tidak lebih dari 10 ribu kata.
  • Inspirasi cerita atau ide pokok cerita cerpen biasanya bersumber dari pengalaman pribadi berdasarkan kehidupan sehari-hari di masyarakat.
  • Berbeda dengan karya sastra lainnya, cerpen hanya mencerikan seorang tokoh saja (tidak semua tokoh diceritakan).
  • Cerpen pasti berisi kisah mengenai satu tokoh yang sedang mengalami masalah beserta cara menyelesaikannya.
  • Penggunaan diksi dan pemilihan kata-kata dalam cerpen lebih sederhana dan mudah dimengerti.
  • Penggambaran kisah dalam cerpen disampaikan dengan sangat mendalam, sehingga pembaca pun dapat ikut merasakan peristiwa yang diceritakan.

 

Unsur-Unsur Cerpen Beserta Strukturnya

Sebuah cerpen berkualitas adalah cerpen yang yang bisa membuat pembacanya tidak bosan untuk terus membacanya hingga akhir. Jangan sampai penikmat cerpen justru merasa jenuh dan malas untuk menyelesaikan pembacaan cerpen karena bahasa terlalu bertele-tele.

Untuk dapat menghasilkan sebuah cerpen yang baik maka, kamu harus memperhatikan unsur-unsur berikut ini:

Unsur Intrinsik Cerpen

Pada dasarnya, semua karya tulis pasti memiliki unsur-unsur untuk membangun suatu kerangka cerita, termasuk cerpen.

Seorang penulis cerpen, dalam membuat cerpen pasti melibatkan 8 unsur dalam kerangkanya. Apabila salah satu bagian unsur ini tidak ada dalam cerpen karangannya, maka karya tulisnya belum bisa disebut cerpen.

Daripada penasaran, mari kita simak penjelasan mengenai cerpen dan unsur intrinsiknya berikut ini:

  1. Tema
    Di dalam semua karya tulis, tema adalah suatu unsur inti yang harus ada. Karena tema merupakan sebuah nyawa dari dalam karya tulis, termasuk cerpen. Tema pulalah yang melatarbelakangi keseluruhan cerita dalam sebuah cerpen.
  2. Tokoh
    Tokoh adalah pelaku fiktif yang dimunculkan pengarang dalam sebuah cerpen. Pada umumnya tokoh dibagi menjadi dua, yaitu tokoh utama dan tokoh pembantu.Adapun watak tokoh dibagai menjadi 4, yaitu tokoh protagonis (baik), tokoh antagonis (jahat), tokoh tritagonis (selalu menjadi penengah), dan tokoh figuran.
  3. Penokohan
    Sebagian dari kita mungkin menganggap tokoh dan penokohan merupakan 2 istilah yang sama, padahal perbedaan diantara keduanya cukup mencolok lho.Tokoh lebih sering diartikan sebagai seorang pelaku dalam sebuah cerpen, sefangkan penokohan adalah cara pengarang menggambarkan tokoh di dalam cerpen.Cara pengarang dalam menggambarkan tokoh sendiri bisa dengan berbagai cara, tetapi cara yang paling sering digunakan penulis untuk menggambarkan tokoh dalam ceritanya adalah dengan penggambaran melalui fisik tokoh, reaksi tokoh lain, maupun melalui percakapan yang dilakukan diri sendiri ataupun orang lain.
  4. Alur (Plot)
    Alur adalah rangkaian peristiwa yang dibentuk oleh penulis dalam membuat sebuah cerita. Tahapan-tahapan alur sendiri dibagai menjadi 5, yaitu tahap perkenalan, tahap munculnya konflik, tahapan klimak, tahap peleraian, dan tahap penyelesaian.Sedangkan untuk alur cerita sendiri dibagi menjadi 3, yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran.
  5. Latar (Setting)
    Unsur latar memiliki hubungan yang sangat erat dengan tokoh dalam suatu peristiwa dalam cerita. Latar cerpen adalah sebuah keterangan yang menjelaskan mengenai waktu, ruang dan suasana yang terjadi. Latar sendiri dibagi menjadi 3, yaitu latarwaktu, latar tempat, dan latar suasana.
  6. Sudut Pandang
    Sudut pandang adalah kedudukan seorang pengarang dalam menyampaikan sebuah cerita. Adapun sudut pandang sendiri dibagi menjadi sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga.
  7. Gaya Bahasa
  8. Amanat atau Pesan

 

Unsur Ekstrinsik Cerpen

Setelah membahas unsur intrinsik, sekarang kita akan membahas cerpen beserta unsur ekstrinsiknya. Berbeda dengan unsur intrinsik yang setiap poinnya berada di dalam karangan, poin unsur ekstrinsik berada di luar cerita pendek.

  1. Adanya latar belakang masyarakat
  2. Adanya latar belakang penulis
  3. Nilai yang terkandung dalam cerpen

 

Struktur Cerpen Yang Baik

Berikut beberapa struktur kerangka cerpen yang baik:

  • Sebuah abstrak cerpen harus berada di bagian utama. Abstrak berisi rangkuman singkat yang menggambarkan cerita yang ada dalam cerpen tersebut.
  • Orientasi cerita terletak setelah bagian abstrak. Orientasi cerpen berisi info detail mengenai kapan waktu kejadian, suasana dalam cerita dan dimana letak lokasi kejadian peristiwa dalam cerita.
  • Cerita harus mengandung unsur komplikasi. Komplikasi adalah unsur cerita yang mempunyai hubungan sebab-akibat dari sebuah kejadian yang terjadi.
  • Adanya unsur evolusi, evolusi cerita berisi mengenai penggiringan atau pengarahan permasalahan yang akan semakin memanas.
  • Terdapat titik resolusi cerita, resolusi adalah penggambaran mengenai permasalahan atau konflik yang telah muncul dan mulai ditemukan titik penyelesaiannya.
  • Cerita harus mengandung kota. Koda adalah suatu pesan atau hikmah dari suatu cerita yang bisa dipetik oleh para pembaca.

 

Cara Membuat Cerpen Bahasa Indonesia

Setelah belajar panjang lebar tentang teori cerpen, tidak seru apabila tidak mempraktekkan ilmu yang sudah didapat secara langsung. Berikut langkah-langkah cara menulis cerpen dengan baik.

  1. Tentukan topik permasalahan
  2. Tentukan tokoh
  3. Buat judul dan pararaf pertama cerpen dengan menarik
  4. Sampaikan cerita dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami.

 

Kumpulan Cerpen Terbaik Juara Tingkat Nasional

 

DUUAARR…!
Oleh: Inok Binawa
Email: [email protected]
HP: 08121597059

”Utamakan belajar, jangan pacaran dulu!” kata Mama saat aku mencium tangannya. Selalu kata itu yang kudengar setiap pagi saat aku pamit ke sekolah. Entah apa yang dikhawatirkan Mama terhadap makhluk yang namanya ’pacar’. Bagi Mama, pacar lebih ganas dibandingkan monster mana pun, mungkin! Hhh…memangnya Mama dulunya tidak pernah pacaran, gerutuku.

”Danti, kau dengar kata Mama?”

”Iya Ma Rhea dengar Sampai hafal, malah!”

”Pulang sekolah langsung ke rumah. Jangan mampir ke mana-mana. Pak Amin akan menjemput jam 14.00, sekalian mengantar Mama ke salon.”

”Siap…!”

Mama kelihatan tenang. Sebaliknya aku menjadi gusar. Perjalanan ke sekolah mendadak  tak nyaman, padahal tak ada yang salah dengan ruas jalan yang setiap pagi kulewati selama dua tahun ini. Kalaupun berbeda, hanya sedikit, karena pagi ini banyak lopak-lopak air di jalan setelah hujan semalam. Tapi itu pun tak berpengaruh bagiku, toh Pak Amin sangat berhati-hati menyetir, kecil kemungkinan terperosok dalam kubangan. Mungkin dialog  di hatiku yang membuatku tak nyaman. Patuh  pada Mama atau setia pada Beny? Jujur pada Mama atau bohong pada Beny? Lanjut atau henti? Ahh…susah amat!

Gerbang sekolah sudah ramai saat aku tiba. Tapi, lebih ramai lagi pintu masuk kelasku. Hampir separoh penghuni kelas berkerumun di teras kelas. Aneh, biasanya mereka asyik bermain HP selama menunggu bel masuk, tetapi hari ini kok lain? Ada  apa ya? Apa yang sedang mereka tunggu?

”Selamat pagi, teman-teman,” sapaku, genit seperti biasanya. Tak ada seorang pun yang menjawab. Semua asyik dengan obrolannya. ”Hai…! Pagi…!” kucoba mengubah sapaanku. Mereka membuang muka. Aku mencoba ikut nimbrung obrolan mereka, ”Oh itu, yang dilaunching kemarin di Griya Aksara, kan? Bukannya itu novel kedua dari trilogi yang ditulis Inok Binawa?” kataku menimpali obrolan mereka. Sungguh, aku tak nyaman dengan sikap sok tahu dan sok akrab  seperti ini. Tapi ini terpaksa kulakukan untuk bisa masuk dalam obrolan mereka.

”Hah…? Ha…ha…?” mereka tertawa sinis.

”Siapa juga yang meminta pendapatnya?” kata Lena sinis.

Tampaknya aku harus tahu diri menghadapi mereka hari ini. Entah virus apa yang menjangkiti mereka sehingga seolah tak mengenalku.          Hatiku menjerit keras Tuhanku, aku mengembara di negeri asing (hiks.., pinjam puisinya Chairil Anwar). Aku mencoba untuk cuek pada sikap mereka, meskipun aku yakin ini tak wajar. Ada apa denganku? Ada apa dengan mereka? Aku tak sempat menanyakan jawabnya pada rumput yang bergoyang karena bel masuk keburu berbunyi.

Pelajaran pertama, fisika, berlangsung beku, sebeku es! Tak ada yang bertanya padaku tentang jawaban soal latihan, juga tak ada yang berebut buku tugasku. Hal yang rutin terjadi pada pelajaran fisika, hari ini ’pause’.  Semua cuek, seolah aku tak ada. Juga pada jam-jam berikutnya, saat pelajaran matematika, dan PKN, aku semakin terasing di kelas yang biasanya selalu membuatku ekciting.  Jam terakhir, bahasa Indonesia. Aku berharap suasana akan sedikit berubah dalam pelajaran ini karena gurunya yang superngocol. Paling tidak suasana akan sedikit cair pada jam ini. Semoga!

”Selamat siang, anak-anak!” sapa Bu Alya.

”Siaaang…, Buu…!”

Deg! Aku merasa pelajaran ini tidak akan berjalan sesuai harapan. Bu Alya masih merapikan setumpuk kertas yang dibawanya dari ruang guru. Aku pastikan, Bu Alya akan memberi tugas di jam terakhir ini. Meskipun feelingku biasanya benar, aku berharap meleset saat ini. Tapi, ups…! Feelingku yang menang.

”Anak-anak, Ibu minta kalian menganalisis cerpen yang Ibu siapkan. Kalian analisis mulai dari tema, perwatakan, alur, setting, sudut pandang, dan temukan moral value-nya. Jika waktunya cukup, tentukan juga unsur ekstrinsiknya!”

”Huuhhh…!” lenguh beberapa teman.

”Ada yang keberatan?” tanya Bu Alya menyelidik.

Jujur, sebenarnya aku sangat keberatan dengan tugas ini. Aku yakin  teman lain pun lebih senang jika Bu Alya mengajar seperti biasa;  ceria, smart, humoris, dan energik. Bu Alya benar-benar bisa menjadi ice breaking setelah suntuk dengan rumus-rumus fisika, kimia, matematika, dan hafalan biologi.

”Tugas kelompok, Bu? Berapa orang setiap kelompok?”

”Ini tugas individu. Cerpen ini cukup untuk dibagikan satu-satu. Masing-masing anak akan mendapat cerpen yang berbeda.”

Yaah…, gatot (gagal total)! Aku berharap tugas itu menjadi tugas kelompok agar aku punya peluang untuk membaur dengan teman yang lain. Nyatanya, peluang itu tak berpihak padaku. Nasib…!

”Ada pertanyaan?”

Tak ada jawaban. Suasana benar-benar kaku.

”Baik. Ibu ada tugas di kantor, jika ada hal kurang jelas, silakan menemui Ibu di ruang guru. Selamat siang.”

Beberapa menit setelah Bu Alya meninggalkan kelas, semua siswa segera tenggelam dalam kesibukan; membaca, merenung, berkenyit, dan kemudian menulis. Untuk sejenak aku bisa melupakan keterasinganku, larut dalam keasyikan mengerjakan tugas. Hampir dipastikan tak ada siswa yang semau gue dengan tugas Bu Alya. Bukan karena dia guru galak,atau killer, bukan! Bu Alya jauh dari sifat itu! Semua siswa tidak berbuat seenaknya justeru karena segan. Bu Alya selalu serius mengoreksi tugas-tugas kami. Karena keseriusannya dalam  membimbing siswa itulah yang membuat kami segan.   Kelas seakan tersirap oleh tugas dari guru cantik itu hingga bel pulang berbunyi.

Pukul 13.45. aku sudah standby di pintu gerbang. Bukan karena Pak Amin sudah menjemputku, atau karena Beny menungguku, tetapi karena aku ingin segera menjauh dari teman-teman yang telah membuatku terkucil. Lepas dari mereka adalah hal indah  yang menyenangkan.

”Tumben Mbak Danti sudah sampai di sini, biasanya kan Pak Amin yang selalu nunggu,” sapa Pak Yanto, satpam, ramah.

”Yah, sesekali aku yang tepat waktu, kan nggak apa-apa, Pak.”

”Lho, kalau ingin tepat waktu ya jangan hanya sesekali, Mbak! Kasihan Pak Amin, harus selalu nunggu Mbak Danti, berjam-jam! Biasanya ngapain sih, Mbak, kok sering begitu?”

”Ada deh, mau tahu aja. Pak Yanto, kan, juga pernah muda,” jawabku sekenanya. Ternyata enak juga ngobrol sama satpam.

”Yee…, semua orang seusia saya ya pasti pernah muda, dong, Mbak?”

”Pernah pacaran nggak…?”

”Ya, kalau pacaran sih, tidak pernah.”

”Tidak punya pacar ya?”

”Punya, tapi kami tidak pernah pacaran.

”Kenapa?”

”Susah, Mbak. Kalau mau pacaran kan harus curi-curi waktu. Banyak bohongnya. Banyak alasan! Banyak dosa!”

”Kok…?” suaraku tercekat di tenggorokan.

Jawaban Pak Yanto serasa peluru yang ditembakkan, tepat ke ulu hatiku. Itulah yang kulakukan selama ini, dengan Beny. Aku harus pinter buat alasan, banyak bohong, dan pandai-pandai mengatur waktu. Untunglah Pak Amin sangat baik, jadi tidak pernah mengadu apa-apa sama Mama. Padahal, Pak Amin pasti bisa menduga-duga, apa yang kulakukan hingga ia harus  sering menunggu lama.

Hari ini situasi berbalik, aku yang harus menunggu Pak Amin. Tidak boleh telat! Ingat kata Mama tadi pagi! Kalau aku sampai telat, bisa-bisa terjadi bencana besar. Maka, biarlah sekarang aku yang mengalah. Tapi, kenapa ya Pak Amin belum datang juga? Kulirik jam tanganku; 14.32. Pantas, sudah mulai sepi.

”Coba ditelepon saja, Mbak Danti, siapa tahu macet, atau ada acara lain.”

Tampaknya Pak Yanto melihat kegelisahanku. Benar juga! Akhirnya kucoba untuk menelepon. Hasilnya, tulalit! Kutelepon Mama, tulalit! Hhh…, ternyata menunggu memang menjemukan. Coba ada Beny, mungkin situasi tidak akan sesuram ini. Huh, hari ini memang sial bagiku! My God, what wrong with me?

”Bagaimana, Mbak?”

”Nihil,” jawabku.

”Ya sudah, ditunggu saja, saya temani di sini.”

”Yang benar saja, Pak, siapa menemani siapa? Sebenarnya, Pak Yanto, kan, yang butuh teman?”

”Ya, kita sama-sama butuh teman, kan, Mbak? Jadi, kita prend.”

”Huh, sok gaul!”cibirku, manja.

”Ih, begitu saja marah.”

Waktu terus berlalu, tapi Pak Amin tak nongol-nongol juga. Aku semakin gelisah. Kutelepon, lagi dan lagi, tapi tetap saja tulalit. Aku tambah gusar. Akhirnya kuberanikan menelepon Beny, padahal tadi pagi sudah kujanji untuk tidak menghubungi  dulu. Apa boleh buat, aku butuh pertolongan di hari yang sial ini. Beberapa kali ku-calling, jawabannya sama.

”Telepon yang Anda tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi!”

Selalu begitu jawaban yang aku terima. Menyebalkan!

”Sudah jam tiga lebih, lho, Mbak! Tumben ya, Pak Amin belum datang?”

”Iya nih, Pak. Aduuhh…, baiknya bagaimana, Pak? Ada saran?”

”Idih, minta saran kok sama satpam?”

”Pak Yanto, please, aku lagi sebel banget, nih! Aku harus bagaimana?”

”Ya, sudah, anggap saja Pak Amin tidak menjemput hari ini. Jadi, Mbak Danti harus pulang sendiri. Tapi, demi baiknya, Mbak Danti ikuti jalur yang biasa dilalui Pak Amin, siapa tahu nanti bisa berpapasan di jalan.”

”OK, good ide! Pak Yanto pinter deh!”

”Kan, kita prend?”

Aku tak begitu mempedulikan lagi Pak yanto. Segera aku angkat kaki, berjalan menuju jalan utama, dan berharap segera menemukan angkot. Mudah-mudahan aku segera mendapat angkot yang menuju rumahku. Benar juga, begitu sampai jalan utama, kudapatkan angkot. Lega rasanya! Aku ingin segera sampai di rumah, dan melakukan sesuatu yang bisa menebus sialku hari ini.Tapi bisakah, kalau jalannya pelan begini, banyak ngetem pula?

Ternyata kata ’sabar’ lebih mudah diucapkan ketimbang menjalaninya. Naik angkot yang begini lamban, sungguh membutuhkan kesabaran penumpangnya. Aku mulai gusar, tetapi penumpang lain, tampaknya, tenang-tenang saja. Mungkin mereka sudah terbiasa menghadapi hal seperti ini. Sebenarnya, akalku bisa menerima ulah angkot ini, maklumlah, harus kejar setoran, jadi harus telaten mencari penumpang, tetapi perasaanku tidak mudah menerimanya. Akumulasi dari penderitaanku sejak pagi tadi membuatku geram. ”Huuhh….bisa sampai malam, kalau begini,” gerutuku.

”Sabar, Mbak! Memang begini kalau naik angkot,” kata seorang ibu yang bersiap turun.

Aku hanya tersenyum menjawab perkataan ibu itu. Pandanganku mengiringi perempuan paruh baya itu turun dari angkot, membayar ongkos, dan menerima kembaliannya. Semestinya, setelah itu, angkot segera berjalan kembali. Kuamati sopir angkot berkali-kali menghidupkan mesin, tetapi tak berhasil.

”Bagaimana, Pak?” tanya seorang penumpang.

Sopir itu tidak menjawab. Ia masih mencoba mengutak-atik kunci kontak. Hasilnya sama, macet!

”Macet, ya, Pak?” Tanya penumpang itu lagi.

”Iya, nih. Saya oper angkot lain saja ya?”

”Ya, Tuhan…!” desisku menahan marah. Aku bergegas turun, tanpa basa-basi kutinggalkan angkot sialan itu. Kali ini aku benar-benar ingin melengkapi segala tragedi hari ini. Aku tidak mencari angkot lain, tidak mencoba menghubungi Pak Amin, tidak mengutuki diri sendiri, dan tidak mengumpat.

Sebaliknya, kusingsingkan lengan, memompa semangat, melanjutkan perjalanan. Ya, aku akan melanjutkannya dengan berjalan kaki. Biarlah orang akan menertawakan aku, biarlah habis energiku, biarlah…! Biarlah hari ini kubayar tunai dengan segala sial!

Aku terus berjalan. Kadang-kadang kupercepat langkahku agar segera sampai di rumah. Beberapa kali angkot yang melintas menawariku, tapi kuabaikan. Beberapa pengendara sepeda motor meskipun agak ragu, mencoba memberikan tumpangan, tapi tak kuhiraukan. Beberapa pemakai jalan juga terlihat heran melihatku berjalan, sendirian, dengan langkah tergesa, di jalan raya pula. Ah, biarlah, EGP!

Begitu sampai di depan rumah, kutendang pintu pagar, menimbulkan bunyi yang tak mengenakkan. Aku tak peduli, dan  segera menerobos masuk rumah lewat pintu samping. Ingin kutemukan seseorang untuk menjadi sasaran amarahku, Mama, Pak Amin, Mbok Mun,…! Tapi, astaga…! Rumah begitu sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan!

”Mama…! Mbok Mun…! Pak Amin…! Kak Mira…! …!” teriakku mengabsen satu-satu. Hening. Tak ada jawaban. Aku tambah kesal. Kulemparkan tas sekolah, sepatu, kaos kaki, dan terakhir, kuhempaskan tubuhku di atas sofa. Aku tak tahan lagi untuk tidak menangis, meratapi kejadian hari ini. Kubiarkan air mataku tumpah, membanjir di pipiku yang terasa panas setelah menempuh perjalanan panjang. Kupuas-puaskan tangisku. Selagi tidak ada orang di rumah, pikirku.

Duuaarr…!!

Tiba-tiba suara letusan yang sangat keras terdengar mengusik ketenangan. Aku tergagap. Apa lagi yang akan terjadi, ya Tuhan? Meskipun dalam kecemasan, logikaku tetap meyakinkan bahwa letusan itu tidak berasal dari dalam rumah. Jadi, aku tidak berlari ke dapur untuk melihat tabung gas meledak atau tidak. Aku berlari keluar, mencari tahu sumber suara. Begitu kubuka pintu utama, kekagetanku semakin menjadi-jadi…

”Seraaanng…,” teriak Rani memberi aba-aba.

Tiba-tiba sepasukan orang, masih dengan kostum putih abu-abu, menyerbuku. Dengan lipstick, mereka main coret saja di sekujur tubuhku. Aku tak berdaya melawan mereka. Setelah tubuhku sudah benar-benar tidak layak pandang, mereka baru berhenti. Aku tidak tahu, sehoror apa penampilanku, pscaserangan itu.

”Happy birthday to you, happy birthday to you, happy…!”

Lagu itu menggema sampai ke dalam rumah. Aku masih bengong, mirip hantu bloon, mungkin!

”Selamat ulang tahun, ya, hantu seksi,”ucap Lena

”Semoga panjang usia, beautiful ghost,”sapa Rani.

Aku hanya bisa mematung. Tega-teganya mereka mengerjaiku sejak tadi pagi. Ternyata mereka merencanakan kejutan ini.

”Selamat ulang tahun, anakku sayang.”

”Mamaa…! Jadi, Mama juga ikut dalam sindikat ini?” teriakku.

”Justeru ini idenya Mama, Danti.”

”Hah…? Mama, apa-apaan sih, Ma?”

”Tante hanya ingin ulang tahunmu berkesan, Danti,” Athea menimpali.

”Tapi, mestinya tidak harus dengan cara begini, kan, Ma?”

”OK, kalau tidak suka cara begini, tunggu cara Mama yang lain,” kata Mama. Perempuan ayu itu segera memberi kode pada seseorang di dalam mobil yang diparkir di luar pagar. Pintu mobil terbuka, dan tampaklah seorang lelaki keluar dengan kue tart dan bouket mawar warna pink di tangannya. Hah…Beny!

”Tidaakkk…!” aku berlari untuk menghindarinya. Aku tak sanggup bertemu Beny dalam keadaan seperti ini.

”Heh…, kau tak boleh lari, Dan. Kamu harus berani menghadapi kenyataan!” teriak Rani sok manyun.

Lena memegang tangan kiriku, Rani mencengkeram lengan kananku. Aku meronta-ronta untuk lepas. Aku malu bertemu Beny dengan penampilan begini.

”Mama, Mama, tolong Danti, Ma, please…!” teriakku memelas.

”Biasanya, kan, kamu ngumpet-ngumpet untuk ketemu Beny, sekarang sudah Mama datangkan kesini, masa tidak mau menemuinya?”

”Mama, kok tahu, Mama…?”

Aku tak habis pikir, dari mana Mama tahu tentang Beny? Bukankah selama ini aku selalu menyembunyikannya dari Mama? Bukankah Mama melarangku untuk pacaran?

”Sudahlah, ini mau diterima tidak?” tanya Beny yang sudah berdiri gagah di depanku. Bouket mawar warna pink, dan tart kecil berbentuk hati, dengan warna pink pula , disodorkannya padaku.

Tuhanku…! Aku hilang bentuk! Kembali puisi Chairil pas mewakili perasaanku. Dengan gemetar, dan seribu tanya di hati, kuterima pemberian Beny, ”Terima kasih,” kataku. Sulit bagiku untuk mempercayai bahwa ini bukanlah mimpi.

”Kau tetap cantik dengan dandanan seperti ini,” sindir Beny.

Aku cemberut, manyun.

”Ayo, Dan, masa’ bengong saja,” Wina menggodaku.

”Peluk! Cium! Peluk…! Pe…!” suara teman-teman memojokkanku.

”Terima kasih, Mama…!” teriakku sambil menghambur ke pelukan Mama.

”Huuu…dasar, anak Mama!” kata teman-teman kecewa.

Mama memelukku erat-erat. Aku menikmatinya. Damai rasanya berada dalam pelukan Mama, mendengar detak jantungnya, dan merasakan lembut belaiannya.

”Ma, Mama tahu dari mana tentang Beny?” tanyaku berbisik.

”Dari Tente Mala. Mamanya Beny itu teman kuliah Mama,” jawab Mama tak kalah pelan.

”Jadi, selama ini Mama tahu kalau…?”

”Kalau kamu sering membohongi Mama dan Pak Amin?”

”Ihh…,Mama!”kucubit pinggangnya.

Malam semakin larut, tapi aku dan Mama masih asyik berbincang, seperti dua sahabat yang dipertemukan lagi setelah belasan tahun terpisah, ada saja yang diobrolkan. Saat aku beberapa kali menguap, Mama baru mengakhiri obrolannya.

”Ma, terima kasih untuk kado terindah yang Mama berikan,”

Mama tidak menjawab apa-apa, tapi senyum tulusnya sudah mengatakan banyak hal. Kucium Mama, lalu menuju kamarku untuk menyambut mimpi baru dalam tidurku.

 

Contoh Cerpen Singkat Motivasi Hidup

 

OH, YAA…?
Oleh: Inok Binawa
Email: [email protected]
HP: 08121597059

”Eurekaa…!” teriak Abun, persis ketika Archimides menemukan jalan keluar untuk membuktikan bahwa mahkota raja tidak terbuat dari emas murni.  Ulah Abun sontak membuat kelas menjadi geerr…! Kegaduhan tak terhindarkan. Kelas yang tadinya beku menjadi riuh.

”Abuuun! Kamu lagi…! Bisa tidak sih kamu berlaku baik, sekaliii…saja!” teriak Bu Rina, guru bahasa Indonesia.

”Aduh, Bu, maaf! Saya tidak sengaja.”

”Tidak sengaja, bagaimana? Jelas-jelas kamu berteriak, masih berani bilang tidak sengaja?”

”Iya, Bu. Saya bahagia sekali menemukan ide untuk menulis puisi, tugas dari Ibu,” kata Abun polos.

Kelas semakin geerr. Bu Rina hanya bisa geleng-geleng kepala. Untunglah beliau memiliki kesabaran yang tinggi. Guru lain mungkin bisa kebakaran jenggot menghadapi ulah Abun.

”Sudahlah, Abun! Ibu rasa tak perlu lagi berdebat denganmu. Kerjakan saja puisinya, lalu kumpulkan. Ingat, setinggi apa pun nilaimu di mapel lain, bagi Ibu, itu bukan ukuran kecerdasan bila kau tak mampu menulis dengan baik.”

”Tobat!” desis Abun. Selalu kata-kata itu yang harus didengar dari Bu Rina. Mengapa sih guru cantik ini tidak menyerah? Abun saja sudah angkat tangan untuk urusan menulis cerpen dan berpuisi ria. Ia merasa tidak memiliki bakat dalam tulis menulis, terlebih sastra. ”Huh…, mendingan bermain rumus KIMIA, FISIKA,….” Lenguhnya suatu kali.

Abun berusaha keras menata huruf demi huruf menjadi kata, menyusun kata demi kata menjadi baris-baris puisi, dan memadu baris demi baris menjadi bait puisi. Semua dilakukannya demi  satu harapan, semoga Bu Rina mengakui  bahwa peringkat di dalam rapot itu adalah suatu ukuran bahwa ia memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Setelah itu, ia akan menuntut Bu Rina mengembalikan namanya; Ardi Setyawan! Nama yang diberikan orang tuanya.

Sejujurnya, nama panggilan yang diberikan Bu Rina pun sebenarnya sudah merupakan penghargaan atas kecerdasannya. Abunawas…! Semua tahu, tokoh cerita yang legendaris itu memiliki kecerdasan luar biasa. Ia bisa menyelesaikan hampir semua masalah yang dihadapinya. Di samping itu, sifatnya yang jenaka memberinya banyak teman. Apakah sifat seperti itu juga ada pada dirinya sehingga Bu Rina memberikan nama panggilan begitu?

Sejak julukan itu diberikan padanya, seolah nama Ardi Setyawan telah musnah di telan bumi. Tak ada lagi teman yang memanggil dengan nama aslinya. Semuanya mengitkuti Bu Rina, memanggilnya; Abun! Ya nasib…! Ya nasib…! Ia ingin protes, tetapi teman-temannya terlanjur senang memanggilnya demikian. Ya sudahlah, demi teman yang membuat hari-harinya penuh warna, demi Bu Rina yang selalu menginginkannya bisa menulis puisi, demi …, demi yang lain, dan…demikian tentunya.

Saat ini, Abun sedang serius menyelesaikan puisinya. Dahinya berkenyit, kadang tatapan matanya menerawang, sesaat kemudian ia memijit-mijit dagunya yang tak bermasalah (masa iya dagunya pegal-pegal hingga perlu dipijit? kemudian menorehkan sesuatu ke bukunya. Sebentar kemudian dia terpaku lagi, merenung, membelai-belai kepalanya yang juga tak bermasalah. Begitulah ekspresi Abun saat sedang serius. Ia bertekad mengumpulkan puisinya hari ini juga. Sebab, malam nanti ia tidak ingin punya beban. Ada sesuatu yang harus ia persiapkan untuk apel pertamanya.

”Sudah selesai, Abun?” suara Bu Rina tiba-tiba muncul dari arah belakang.

”Nyaris, Bu!”

”Nyaris? Kamu itu, kalau cari kata seenaknya!”

Abun hanya nyengir. Entah mengapa ia selalu menjadi pihak yang bersalah di depan Bu Rina. Tapi apa boleh buat, kelas sudah terlanjur menyetujui ‘perseteruan’ dirinya dengan Bu Rina.

Berpeluh, berkenyit, berdesis, bergeleng-geleng, dan ber…ber… lainnya, mengantarkan Abun sampai pada ujung keluh; akhirnya selesai juga!  Sekali lagi Abun menatap puisinya. Dicermatinya baris demi baris, lalu ia mengeja lagi judul puisinya;

‘CINTA  MATEMATIS’

(untuk pencari cinta dalam hitungan)

 

Dari  pertidaksamaan

Tumbuh keinginan untuk menyelaraskan

Dari pembagian

Tumbuh keinginan untuk adil

Dari perkalian

Tumbuh keinginan untuk melipatkan kasih sayang

Dari penambahan

Tumbuh rasa untuk memberi lebih banyak

Dari peluang

Tumbuh upaya untuk memaknai kesempatan

Dari sekian banyak rumus matematika

Tak akan mampu menghitung

Berapa besar cintaku padamu

Puas dengan puisinya, Abun segera menghampiri meja guru, dan meletakkan puisinya di bawah lembaran puisi yang lain. ”Mulai hari ini, di Indonesia bertambah lagi satu penyair; Abun!” gumamnya.

”Apa katamu..?”

”Nggak apa-apa kok, Bu. Piisss…!” desisnya seraya meninggalkan kelas.

 

*       *       *

Sinar lampu neon 10 watt menerpa lantai keramik cokelat muda, dan membiaskan warna lembut di antara pot-pot tanaman hias di teras cantik. Di sebelah utara, air mancur kecil yang menghadirkan suara gemericik. Sebuah kursi tunggu dengan tiga tempat duduk membujur di seberangnya. Di kursi itulah Abun mati gaya di samping seorang gadis ayu. Tangannya memilin-milin koran sekadar menghalau rasa tak nyaman yang teronggok di dadanya.

Abun, cowok yang cukup ‘marketable’ di sekolah tak menyangka bakal menemui situasi serba sulit di teras rumah itu. Ia mengira nge-date itu gampang. Segampang  ngobrol kocak seperti yang biasa ia lakukan bersama teman-temannya. Ternyata lebih ribet dari ulangan lisan bahasa Jerman, lebih sulit dari menulis puisi, dan lebih kacau dari hukum kesetimbangan. Apakah dulu Napoleon, Stalin, Hitler juga pernah mengalami seperti ini? Otak usilnya mulai meracau. ”Ah, busyyeet….! Kenapa jadi sulit begini?” desisnya.

Kebekuan segera terkoyak oleh suara klakson mobil. Rasti, si gadis ayu, segera beranjak membuka pintu pagar. Sebuah sedan Baleno hitam menggeleser masuk pekarangan, dan terparkir mulus tepat di depan Abun yang sedang mematung. Plat mobil terbaca jelas oleh Abun; R 1111 NA. Abun ternganga, OMG…! Sosok perempuan yang tak asing bagi Abun, turun dari mobil; anggun.

”Tante, ini Ardi, teman Rasti.”

”Oh ya?” Perempuan yang dipanggil ‘Tante’ itu kaget.

”Ardi, kenalkan ini Tante Rina, Tante aku yang paling top!” kata Rasti memperkenalkan perempuan di sebelahnya.

”Oh ya?!” Abun meng-copy paste kekagetan Tante Rina.

Suasana menjadi ‘hang’ untuk beberapa saat. Dalam  situasi seperti itu, Abun semakin hilang bentuk di depan seterunya itu. Haruskah ini menjadi hari sialnya di depan Bu Rina? Tadi siang, ketegangan terjadi di kelas, dan sekarang harus remidi kejadian itu, saat wakuncar? Apakah acara apel ini akan berantakan oleh sosok perempuan cantik bernama BU RINA?

”Abun, ngapain kamu di sini? Awas, jangan main-main kamu!”

Abun tersentak. ”Nggak, Bu! Nggak berani! Hanya orang bodoh yang tega mempermainkan gadis ayu seperti dia.” Dengan wajah imut, Abun meracau.

”Sok puitis!” komentar Bu Rina ketus.

”…?!”

Rasti bengong. Kini giliran dia yang lola untuk mencerna adegan yang terjadi di depannya. Tapi, gadis pintar tak perlu waktu lama untuk segera kembali connect pada data yang ada.

”Jadi, Tante Rina…?”

”Yap! Tante tahu betul tentang dia.”

”Oh ya…?!” Rasti terbelalak.

Sekali lagi ungkapan kekagetan itu di-copy paste. Rasti pasti tidak pernah menyadari bahwa ekspresi semacam itu akan mengurangi kecantikannya. Suatu saat nanti, jika Abun sudah berhasil memiliki Rasti, ia akan menjaganya untuk tidak terlalu sering kaget dan terbelalak.

”Rasti, Tante akan bicara hal penting sama Mama, sebaiknya kau ajak saja dia keluar kota-kota…!” kata Tante Rina seraya memberikan kunci mobil.

”Tante serius? Nggak eman-eman, mobil kesayangan dipinjamkan ke Rasti?”

”Ssstt…!”

”Mau apa nggak…?” Mama Rasti tiba-tiba muncul.

”Mau. Mau…!” Rasti girang.

Abun diam terpaku. Kali ini dia tidak sekadar hilang bentuk, tapi; remuk! Kondisi keluarganya belum memberi kesempatan untuk bersentuhan dengan benda bernama m o b i l ini. Sungguh berbeda dengan Rasti.       Mengapa ia berani men-dekati Rasti? ”Cinta datang begitu saja. Menyapa siapa saja, tanpa memandang status sosial. Aku tak kuasa menolak saat cinta mendekat.” Begitu yang pernah ia tulis dalam bukunya.

”Ayo..!” Suara Rasti mengagetkan Abun.

 

Contoh Cerpen Persahabatan Inspiratif

 

GADIS BLOK C.22
Oleh: Inok Binawa
Email: [email protected]
HP: 08121597059

Tak ada yang istimewa pada sosok Dini. Dilihat sepintas, ia gadis teramat biasa. Semuanya standar. Tetapi begitu berdekatan, aku merasa berat untuk meninggalkannya. Apa yang menarik pada gadis ini sehingga aku begitu ingin mendekatinya? Rasanya, aku tertantang untuk menemukan magnet yang tersembunyi di balik kesederhanaannya itu.

Siang ini, sepulang sekolah, aku membuntuti Dini. Misinya, aku ingin tahu di mana dia tinggal. Damar, sahabat kentalku, setia menemani dalam ekspedisi ini. Dengan berboncengan, kami merambat di belakang angkot yang menyemut di jalan raya. Aku harus waspada agar tidak kehilangan jejak. Sebentar saja aku lengah, mungkin akan sulit menemukan lagi angkot yang ditumpangi Dini.

Dua puluh menit setelah berdesakan di jalan raya, angkot yang membawa Dini berbelok arah menuju pinggiran kota. Meskipun aku tak pernah naik angkot, aku tahu persis, ini angkot mengarah pada kawasan perumahan. Ada beberapa real estat di kawasan ini karena memang sudah dicanangkan sebagai daerah perluasan kota. Aku tinggal di salah satu real estat di kawasan ini. Berarti Dini juga tinggal di sini.

”Heh, jangan-jangan Dini tinggal di sini,” kata Damar.

”Bukan hanya jangan-jangan, tapi sudah pasti tinggal di sini,” jawabku.

Kami terus mengikuti angkot itu, hingga berhenti di sebuah gerbang perumahan elit. Yups…! Ini perumahan tempat tinggalku. Dari gerbang ini ke lokasi perumahan cukup jauh. Heran juga kalau Dini tetap berjalan kaki. Ini menjadi pemandangan aneh. Biasanya penghuni perumahan selalu menggunakan kendaraan untuk mobilitasnya.

Aku memperlambat motorku dan membuat jarak cukup jauh dari Dini agar Dini tidak curiga. Setelah sampai di  arena play ground, aku harus mengawasi lebih intensif. Di sini ada persimpangan menuju blok A, B, dan C yang merupakan blok paling mewah di perumahan ini. Bentuk rumahnya modern, ukurannya besar-besar, fasilitasnya istimewa, dan hanya dimiliki para bos. Papa pernah mengatakan bahwa ketiga blok itu bukan kelasnya keluarga kami. Maka, Mama harus menerima kenyataan bahwa Papa hanya mampu membeli satu unit di blok H, mungkin untuk kelas menengah.

”Ssstt…,Ido, dia belok ke kanan, lihat,” kata Damar.

”Berarti dia tinggal di Blok C,” jawabku.

Kami mengawasi dari jauh sampai akhirnya Dini masuk ke rumah di Blok C 22. Sebuah rumah cukup mewah, berlantai dua, dengan taman yang indah.

”Jadi dia tinggal di sini?” gumamku.

”Kau belum pernah melihatnya selama ini?”

”Sama sekali,” jawabku.

”Padahal kan bertetangga?”

”Iya, tapi jaraknya, kan, cukup jauh juga. Lagi pula beda level,” kataku berkelakar.

Damar meninjuku, ”Hari gini masih mempermasalahkan hal begitu? Feodal amat!” katanya.

”Dam, menurutmu ada yang ganjil tidak?”

”Maksudmu?”

”Ya, aneh saja, rumahnya semewah itu, tapi Dini memilih naik angkot dan jalan kaki. Apa ini bukan hal yang ganjil?”

”Mungkin Dini memang gadis yang mandiri, tidak mau dimanjakan.”

”Iya, ya, itulah yang membedakannya dengan gadis lain.”

”Mungkin juga, dia naik angkot khusus hari ini karena sopirnya sedang libur, atau…, ah, masih banyak kemungkinan lain, Do. Menurutku masih banyak hal yang harus kau cari tahu tantang gadis impianmu ini, friend!”

”Itu pasti, sobat. Aku pasti akan mencari tahu.”

Mengetahui di mana Dini tinggal sudah memberi kenyamanan bagiku. Paling tidak, aku menjadi tahu ke mana aku harus melangkah saat perasaan aneh menyeruak menggodaku. Terus terang, aku tidak pernah mengalami perasaan seperti ini pada gadis-gadis lain yang mencoba meanarik perhatianku.

Setelah penyelidikan siang itu, aku masih terus mengawasi Dini. Aku ingin mengetahui lebih banyak hal tentang Dini. Setelah yakin bahwa dia selalu naik angkot–apa pun alasannya– aku memberanikan diri untuk menawarkan tumpangan pada Dini. Sepulang sekolah, aku sengaja berjaga di dekat pangkalan angkot. Aku berharap Dini tidak menolak maksud baikku. Maka, ketika kulihat Dini tengah mencari angkot, aku segera beraksi, menawarkan jasa.

”Din, pulang bareng saja sama aku, naik angkot kan banyak ngetemnya.”

”Memangnya…? Kamu tahu…?”

Ups…! Aku lupa  menyembunyikan rahasia bahwa aku pernah membuntutinya.

”Kita, kan, satu jalur. Ayolah, tidak baik menolak kebaikkan,” rengekku.

Meskipun tampak ragu dan bingung, Dini menerima tawaranku. Perlahan tapi pasti, ia mendekati motorku, dan membonceng. Amboi…! Akhirnya aku bisa membawa gadis impianku, meskipun dengan degup jantung tak karuan. Senang, bangga, takut, malu, dan…, ah, tak terlukiskan mana kala beribu perasaan mengharu biru di rongga dada.

Trip pertama ini berlangsung beku. Sebenarnya aku ingin ngobrol banyak hal dengan Dini. Tapi, entah mengapa, sulit memulainya. Dini pun tampak salah tingkah. Mudah-mudahan karena memiliki perasaan yang sama denganku, atau karena ini saat pertama dia pergi dengan cowok. Aku bingung memulai perbincangan. Yang jelas, perjalanan ini memposisikan aku seperti layaknya tukang ojek. Untunglah, sebelum sampai di rumah, kami punya kesempatan untuk berbincang.

”Kkamu…,” katanya ragu.

Kami hampir bersamaan mengucapkan kata itu untuk memecah kebekuan.

”Mmaaf…,” katanya gugup, dan lagi-lagi hampir bersamaan denganku untuk kata yang sama. Kami hanya saling tersenyum.

”Tampaknya kamu hafal betul jalan ini. Bahkan langsung masuk gerbang perumahan tanpa keraguan sedikit pun. Dari mana kamu tahu…,”

”Aku, kan, juga tinggal di sini, di blok H. Tapi aku biasa lewat jalur samping setiap berangkat sekolah, jadi kita tidak pernah ketemu,” kataku memotong.

”Oh, begitu,” jawabnya singkat.

Suasana kembali hening. Tampaknya Dini tidak mau banyak bicara. Aku pun menjadi sungkan untuk banyak bertanya padanya. Tak apalah, masih banyak kesempatan lain untuk mengobrol dan berbincang. Oleh karena itu, aku tak berbicara lagi. Sepertinya kami lebih asyik dengan pikiran kami masing-masing hingga perjalanan berakhir.

”Terima kasih,” kata Dini singkat begitu kami berhenti di Blok C 22.

”Sama-sama,” jawabku.

Dini langsung masuk ke rumah. Aku ternganga, heran, mengapa dia tidak mempersilakan aku untuk singgah barang sebentar. Mengapa dia tidak berbasa-basi menawari aku mampir ke rumahnya? Andaikata yang kubonceng adalah Vina, Athea, atau Gie, mungkin bukan hanya menawariku untuk mampir ke rumahnya, tapi pasti memaksaku untuk berlama-lama singgah di rumahnya. Tapi, Dini? Gadis ini memang aneh. Ah, mungkin saja Dini masih sangat malu padaku, batinku. Aku mencoba menepis hal yang tak wajar ini.

Setelah keberhasilan trayek pertama itu, aku mencoba untuk terus melakukan pendekatan lebih intensif. Rasanya, aku ingin segera mengakhiri status jombloku. Dini adalah satu-satunya gadis yang harus terlibat dalam pergantian statusku nanti, semoga! Maka, setiap pulang sekolah, aku harus siap di posku untuk menanti Dini. Ceilah…aku sudah seperti tukang ojek beneran, punya pos segala. Tapi tak mengapa, toh ini satu-satunya cara untuk selalu dekat dengan Dini.

”Din, besok pagi kita berangkat bareng, ya?” kataku sesampai di rumahnya, suatu siang. Kuberanikan diri untuk memberikan tawaran itu setelah keberhasilanku memboncengkan Dini untuk yang ke sekian kalinya.

”Hah,…, ah nggak, jangan!” jawabnya gugup.

”Kenapa?” tanyaku penasaran. Aneh betul Dini!

”Ah, nggak apa-apa. Aku biasa berangkat sendiri.”

”Tapi kalau pulang sekolah bisa, kan, kita selalu bareng?” tanyaku membujuk.

Dini hanya mengangguk. Tapi aku belum puas dengan anggukan itu.

”Bisa, kan?” tanyaku memastikan.

”Boleh,” jawabnya.

Seribu tanya memenuhi kepalaku. Dini tak pernah menawariku untuk singgah di rumahnya, tak mengizinkan aku menjemputnya pagi hari untuk berangkat sekolah bersama, selalu mengalihkan pembicaraan jika kutanya tentang keluarganya, selalu menghindar bila kutanya tentang pacar. Selain itu, rasa penasaranku juga semakin menjadi. Mengapa tinggal di rumah semewah itu, tapi puas dengan ke sekolah naik angkot? Mengapa penampilan Dini sangat sederhana, jauh dari kesan anak gedongan? Benarkah ini berkenaan dengan sikap Dini yang rendah hati itu?

Pertanyaan-pertanyaan seputar Dini tak menggeser posisinya di hatiku. Sebaliknya, aku semakin bersemangat untuk mengetahuinya. Bagiku, gadis yang menarik memang gadis yang masih menyimpan misteri semacam itu. Kalau semua sudah dipamerkan, seperti kebanyakan gadis yang sering menggodaku selama ini, aku tak akan tertarik lagi, sebab, tak ada lagi misteri yang harus kukejar untuk kuselami. Dini gadis yang special, ia sangat menjaga sikap. Bagi yang belum mengenalnya, ia adalah gadis yang dingin. Tapi, ia memiliki charisma yang memikat. Aku beruntung bisa mendekatinya.

Hari ini aku berniat untuk melengkapi keberuntunganku. Aku tak tahan lagi dengan rasa penasaran yang menderaku. Bukan untuk mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seputar keluarga Dini, tetapi untuk mendapatkan kepastian tentang perasaan Dini padaku. Sudah saatnya Dini tahu perasaanku yang sebenarnya. Maka, mumpung ini malam Minggu, aku memberanikan diri untuk menembak Dini.

Setelah yakin dengan penampilanku, aku segera menuju  Blok C 22. Aku berharap sikap gentle seperti inilah yang diinginkan Dini setelah ia mengelak setiap kutanya tentang teman dekat, menghindar  saat kutanya nomor telepon, dan bersikap sinis saat kutantang nge-date. Mudah-mudahan kunjunganku ini berkenan bagi Dini dan keluarganya. Dengan segenap cintaku, aku kumpulkan keberanian untuk menemui Dini. Dan, atas nama cinta pula, aku rela mematung di depan  rumahnya, menunggu seseorang membukakan pintu.

”Selamat malam, Oom,” sapaku ramah, begitu pintu terbuka.

Seorang lelaki berdiri di pintu, dan memberikan senyum teduhnya. Aku tidak bisa memastikan lelaki itu sebagai ayah Dini karena, rasanya, masih terlalu muda untuk memiliki anak seusia Dini. ”Ya, selamat malam. Maaf, ada perlu apa ya, atau mau ketemu siapa?” tanyanya ramah.

”Ah, iya, kalau diizinkan, saya ingin ketemu Dini, Oom.”

”Dini?” tanyanya gamang. Cara bertanya lelaki itu membuat nyaliku ciut.

”Iya, Dini, Oom! Saya Ido, teman sekolahnya. Dia ada, kan, Oom?”

”Oh, silakan duduk dulu!” katanya kemudian.

Kami duduk bersama. Lelaki itu bertanya banyak hal tentang aku, mulai dari tempat tinggalku, pekerjaan orang tua, kegemaranku, juga tentang seberapa dekat pertemananku dengan Dini.  Hal ini kuanggap wajar. Sebagai orang tua, ia wajib tahu hal ihwal tentang anaknya, termasuk sahabat-sahabatnya. Papa juga melakukan hal itu padaku. Dengan gaya bicaranya yang santai, aku tak merasa sedang diinterogasi. Mudah-mudahan ini pertanda bahwa aku diterima di keluarga ini.

Aku semakin tak sabar, tapi Dini tak juga muncul. Bukankah aku ke sini untuk bertemu dengannya? Tapi lelaki ini tak segera memanggil Dini. Sebenarnya ada atau tidak dia, lelaki ini papanya atau bukan, aku dizinkan bertemu atau tidak? Hhh…aku jadi gelisah.

”Apa Dini sedang keluar, Oom?” tanyaku memberanikan diri.

”Engg, tidak, eh…, iya…!”

Aku semakin tak mengerti dengan kegamangan lelaki ini.

”Maksud, Oom?”

”Ehm, begini, mas Ido,…,” ia tampak ragu, ”sebenarnya, Dini tidak tinggal di sini. Dia tinggal di kampung sebelah.”

”Ttapi…?”

”Iya, Oom tahu, kamu sering mengantarnya ke sini sepulang sekolah. Tapi ia hanya sebentar di sini. Menjelang maghrib dia akan pulang ke rumahnya setelah pekerjaannya selesai.”

”Jadi…, Dini…?”

”Sebenarnya Oom sudah melarangnya untuk bekerja di sini. Biarlah ia berkonsentrasi pada belajarnya. Oom akan tetap menanggung biayanya. Tapi dia bersikeras untuk menggantikan kewajiban di rumah ini sampai ibunya sembuh.”

Lelaki yang akhirnya kupanggil Oom Zein itu menuturkan banyak hal yang selama ini kupertanyakan. Sekalipun penuturan Oom Zein bisa menjawab segala tanya yang selama ini menggelitik benakku, tetapi tak tertutupi kekagetanku. Ternyata Dini adalah tukang cuci dan binatu di rumah ini, menggantikan ibunya yang sedang sakit. Pagi hari ia berangkat sekolah dari rumahnya, dan pulang sekolah ke rumah ini untuk bekerja, menggantikan ibunya.

”Bagaimana, Mas Ido? Kamu akan berubah pikiran?”

Aku terdiam. Perasaanku pada Dini terlalu dalam, haruskah terhapus hanya karena dia tidak seperti yang kubayangkan selama ini? Bagiku, Dini tetap Dini, apa pun keadaannya, siapa pun orang tuanya, dan di mana pun ia tinggal. Keadaan Dini sekarang bukanlah hal yang hina.  Sebaliknya, merupakan kelebihan dalam kepribadian Dini karena gadis lain belum tentu bisa menjalaninya.

”Menurut Oom, berubah pikiran itu mudah, tetapi mengubah perasaan tentu tidak mudah.” Oom Zein seperti menebak perasaanku.

”Saya sependapat dengan Oom.”

”Bagus, Bagus…! Itu sikap yang gentle. Oom bangga padamu. Dini pantas dicintai orang sepertimu,” kata Oom Zein menepuk pundakku.

Ada perasaan bangga di hatiku. Aku segera berpamitan, dan beberapa menit kemudian motorku sudah merangkak di sebuah gang kecil, di kampung sebelah. Aku harus bertemu Dini malam ini juga. Wakuncar yang sudah kupersiapkan tidak boleh gagal hanya karena Dini bukanlah penghuni Blok C 22. Sudah tetap dalam hatiku, Dinilah gadis yang akan mengubah status jombloku.

Rumah tua, semi permanen, tapi terlihat bersih dan terawat. Kupastikan, di sinilah Dini tinggal. Aku sudah menemukannya sesuai dengan petunjuk Oom Zein.

”Permisi…!” sapaku setelah mengetok pintu.

Tak lama kemudian pintu terbuka, dan sesosok gadis berdiri ternganga. ”I..Iddo?” katanya kemudian. Aku tahu, kedatanganku pasti mengejutkan.

”Boleh aku masuk?” tanyaku kemudian. Sebenarnya aku sedang menyindir karena Dini tak pernah mempersilakan aku masuk setiap mengantarnya pulang.

”Silakan, silakan! Ee…Ido, dari mana kamu tahu rumahku?”

”Dari sini!” kataku menunjuk jantungku, ”aku hanya mengikuti kata hatiku.”

”Kau tak pantas berada di sini, Do. Bukan di sini tempatmu.”

Butir air mata menitik di pipi Dini. Entah apa yang sedang dirasakannya. Tapi tampaknya bukan rasa sedih atau kecewa. Aku tidak perlu menunggunya lagi untuk mengungkapkan sesuatu. Kuraih tubuh mungil itu dalam dekapanku. Entah mengapa aku berani melakukannya. Inilah pertama kalinya aku merasa menjadi superhero yang harus melindungi peri kecil. [email protected]

 

Contoh Cerpen Cinta Romantis

 

COKELAT VALENTINE UNTUK BI IMAH
Oleh: Inok Binawa
Email: [email protected]
HP: 08121597059

Hana melihat Dima, kakaknya, sedang sibuk membungkusi beberapa batang cokelat bersama teman-temanya.  Mereka terlihat sangat riang dan heboh. Hana sangat ingin tahu untuk apa cokelat-cokelat itu, mengapa harus dibungkus dan dihias secantik itu?

”Kak Dima, untuk apa sih cokelat sebanyak itu?” tanya Hana.

”Ini untuk bingkisan valentine, sayang,” jawab Dima cuek.

”Valentine? Apaan sih, Kak?” Hana penasaran.

”Yaaa…ini urusan orang dewasa, Hana. Kamu kan masih kecil, jadi belum saatnya  tahu.”

Hana kecewa tidak mendapat jawaban dari Kak Dima. Sebenarnya apa sih Valentine itu? Ia berlalu dari kamar Kak Dima dengan rasa penasaran.

”Bi Imah, Bibi tahu tidak cokelat Valentine?”

”Ah, Non Hana ada-ada saja. Mana ada coklat Valentine? Yang ada mah cokelat Silverqueen atuh. Non Hana salah baca ya…?”

”Enggak, Bi…! Tadi Kak Dima bilang, katanya cokelat yang baru dibungkusi itu untuk Valentine. Nah, Valentine itu apa?”

”Wah, Bibi nggak tahu. Temannya Non Dima mungkin? Kenapa nggak tanya saja sama Non Dima?” jawab Bi Imah.

”Hhh…hh! Bibi…!” gerutu Hana kesal. Biasanya Bi Imah tahu tentang banyak hal kalau Hana menanyakan sesuatu. Tapi mengapa sampai Bi Imah tidak tahu tentang Valentine ya?  Ah,  bertanya pada Mama saja nanti.

Sambil menunggu Mama pulang kantor, ia menonton TV. Tetapi aneh, TV pun menyebut-nyebut Valentine, juga dengan cokelat. ”Apa sih valentine?” desah Hana.  Ia semakin tak sabar menunggu Mama pulang. Tetapi waktu seperti bertambah panjang saja saat  menunggu.

Sore hari,  saat Mama dan Papa minum teh di teras depan, Hana mendekati Mama. Ini saat yang tepat untuk mencari tahu tentang Valentine pada Mama, pikir Hana. Hana menceritakan apa yang dilakukan Kak Dima bersama teman-temannya.

Mama tertegun sejenak, memandang Papa, dan kemudian tersenyum kecil, ”Oh, begitu. Jadi Hana penasaran ya?” tanya Mama.

”Iya. Mama pasti tahu tentang Valentine kan?”

”Mama tahu, Papa juga tahu, iya kan, Pa?”

”Benar, tapi kan Mama yang ditanya,  jadi Mama juga yang harus menjawab,” jawab Papa.

”Baiklah Hana, dulu-dulunya Valentine adalah nama seorang pendeta di Itali. Beliau itu menyerukan agar masyarakat saling mangasihi dan menyayangi, tidak saling menyakiti. Bapak Valentine juga mengajak semua orang untuk mengungkapkan kasih sayang itu secara khusus, misalnya dengan cara memberikan bingkisan atau hadiah,” jelas Mama.

”Hadiahnya dari cokelat, Ma?”

”Bisa dengan cokelat, dengan bunga, dengan gambar, dan lain-lain.”

”Nah, ajakan Bapak Valentine itu diserukan tanggal 14 Februari. Makanya untuk mengenang jasa Bapak Valentine, setiap tanggal 14 Februari dirayakan sebagai Hari Kasih Sayang. Pada hari itu kita dianjurkan untuk mengungkapkan kasih sayang kepadaorang lain yang kita cintai,” Papa menambahkan.

”Tapi kata Kak Dima, Valentine itu untuk orang dewasa ya  Ma?”

”Oh, sebenarnya tidak begitu, Nak. Siapa pun boleh mengungkapkan kasih sayang. Tapi, memang kebanyakan orang dewasa yang merayakan Valentine. Seperti Kak Dima dan teman-temannya itu.”

”Cokelat yang dibungkus Kak Dima untuk siapa?”

”Ya…untuk orang yang dicintai Kak Dima, bisa gurunya, bisa temannya, bisa juga adiknya, atau siapa saja?”

Hana mengangguk-angguk tanda mengerti. Pantas cokelatnya banyak sekali, cantik-cantik lagi. Pasti banyak orang yang akan diberi bingkisan. Hana juga ingin melakukan hal yang sama. Membeli cokelat, menghiasnya, dan memberikan kepada orang yang dicintai. Hmm..menyenangkan.

”Ma, Pa, Hana juga ingin membeli cokelat. Hana ingin menghiasnya juga seperti Kak Dima. Hana ingin merayakan Valentine seperti Kak Dima…,” kata Hana merengek.

Hana diantar Mama dan Papa membeli cokelat di supermarket. Ternyata banyak juga yang belanja cokelat. Hana sibuk memilih cokelat. Akhirnya ia mendapatkan cokelat yang diinginkannya. Sebuah cokelat dengan ukuran cukup besar, berbentuk bintang, dengan kemasan yang sangat cantik. Hana tersenyum puas, dan hanya satu cokelat itulah yang dibeli.

Esok paginya, tepat tanggal 14 Februari 2008, saat sarapan pagi, Hana membawa cokelat yang sudah dihias dan ditempeli kartu ucapan cantik.

”Hmm…pasti ini cokelat Valentine buat Mama, iya kan?” tanya Mama.

Hana menggeleng, ”Mama kan disayang Papa, jadi nanti pasti diberi cokelat sama Papa.”

”Kalau begitu, buat siapa dong? Buat Kak Dima ya?”

”Huh…, Kak Dima kan sudah punya banyak cokelat…?”

Papa, Mama, dan Kak Dima saling pandang. Mereka bertanya-tanya, siapa yang akan mendapat cokelat besar nan cantik dari Hana? Tetapi rasa penasaran itu segera terjawab saat Bi Imah melintas.

”Bi Imah…, ini hadiah untuk Bibi. Selamat Valentine, Bi Imah! Hana sayang sama Bibi,” kata Hana tanpa ragu.

Bi Imah kaget, begitu juga Papa, Mama, dan Kak Dima. Hana membeli cokelat hanya satu, dan cokelat satu-satunya itu untuk Bi Imah?

”Non Hana…? Bibi rasa, Non Hana tak perlu memberi hadiah untuk Bibi. Tanpa hadiah, ini pun Bibi akan tetap sayang sama Non, karena Non Hana anak yang manis dan baik,” jawab Bi Imah. Matanya berkaca-kaca karena terharu.

”Tapi cokelat ini Hana beli khusus untuk Bibi. Hana sangat sayang sama Bibi karena Bibi selalu membuatkan telor dadar, membuatkan susu cokelat, mendandani Hana kalau mau sekolah…?”

”Sudahlah Bi, terima saja cokelat itu biar Hana senang. Hana benar, Bi Imah sangat baik pada kami, jadi pantas diberi hadiah,” kata Mama menahan tangis.

”Ini Bi, mudah-mudahan Bi Imah suka. Ini namanya cokelat Valentine Bi, karena Hana sayang sama Bibi.”

Bi Imah menerima coklat cantik itu, kemudian mendekap dan menciumi Hana. Hana bengong dan heran mengapa tiba-tiba Bi Imah dan Mama menangis. Tetapi sebelum mendapat jawaban, Hana harus segera bergegas karena mobil jemputan ke sekolah sudah menunggu di depan. Hatinya senang bisa mengungkapkan kasih sayang dan terima kasihnya pada Bi Imah.

Contoh Cerpen Lucu

 

Mandi Hujan
Oleh: Inok Binawa
Email: [email protected]
HP: 08121597059

Siang hari, udara terasa begitu gerah. Di sebelah utara tampak mendung menggantung. Sebentar lagi pasti akan  turun hujan. Berarti Dinar tidak bisa bermain karena Mama pasti akan melarangnya menyalakan TV, Komputer, bahkan VCD sekalipun. Katanya biar aman kalau sewaktu-waktu ada petir. Keadaan ini terasa sangat membosankan bagi Dinar.

”Huh…! Hujan memang menjengkelkan. Dinar jadi tak bisa main apa pun! Hhuhh…!” kata Dinar mengeluh.

Mama yang mendengar keluh kesah Dinar hanya tersenyum.  Apa lagi melihat Dinar yang mondar-mandir di ruang tamu. ”Kenapa mondar-mandir saja, Dinar? Tak lelah kau seperti itu?” tanya Mama.

”Bosan, Ma! Nggak ada teman main, nggak boleh lihat TV, nggak boleh nge-game…! Mau apa, coba?”

”Kalau mau, kamu bisa mengusir rasa jenuh itu bareng Mama.”

Dinar kaget. Tumben Mama peduli pada rasa jenuhnya. Memangnya Mama punya ide apa untuk membunuh kejenuhan?

”Mau, tidak?” tanya Mama menggoda.

Dinar menjadi  penasaran. ”Mama punya ide apa sih, Ma?” tanya Dinar sambil mendekati Mama.

”Kamu bantu Mama membereskan koran-koran dan majalah ini, kita tata  biar kelihatan rapi. Bagaimana?”

”Huu…, Mama…! Itu sih lebih membosankan! Ogah, ah!” Dinar tampak kecewa.

”Hmmmhh…kamu belum tahu hadiah apa yang akan Mama berikan, iya kan?”

Dinar kembali berbalik ke arah Mama. Dipandangnya wajah cantik Mama yang sedang tersenyum lembut. Ia tahu Mama sedang menggodanya. Ingin rasanya Dinar bisa mengabaikan, tetapi rasa penasaran akhirnya mendorongnya untuk lebih mendekat lagi pada Mama.  ”Hadiahnya apa, Ma?” tanya Dinar penasaran.

”Besok uang sakumu Mama tambah lima ribu, mau?”

Dinar terdiam sejenak. Sebenarnya ingin juga sih mengantongi uang lima ribu rupiah. Dengan uang itu, ditambah sisa uang jajannya cukup untuk membeli gasing seperti yang dimiliki Fandi. ”Tambah dong, Ma, jangan hanya lima ribu!” Dinar merengek.

”Baik, Mama tambah seribu lagi.”

”Okay…!” jawab Dinar menyerah.

Sejenak kemudian Dinar dan Mama sudah mulai asyik bekerja. Koran-koran yang ada di sudut ruang tamu dirapikan. Dinar memisahkan koran yang lama dengan koran yang masih tergolong baru. Mama menata majalah di rak dekat ruang tengah.  Sesekali mereka membuka-buka koran dan tergoda untuk membacanya, namun kemudian kembali merapikannya.

Di luar, langit semakin mendung. Dinar kembali cemberut. Ia tahu bakal dilanda kejenuhan lagi nanti.

”Ma, hujan itu menyebalkan ya…?”

”Hush…nggak boleh begitu, Sayang!”

”Coba nggak ada hujan, pasti aku bisa main sepuasnya, kan? Lagi pula, bukannya hujan itu bisa menyebabkan banjir?”

”Kalau nggak ada hujan, sungai akan kering, petani tak bisa mengolah sawah. Nah, kalau petani tak bisa menanam padi, tak akan ada beras kan, bagaimana kita bisa makan, Sayang?”

”Yaaahh…kita kan bisa beli di super market, Ma!”

“Okay…! Kita memang bisa membeli beras di super market. Bagaimana kalau

 

Contoh Cerpen Anak

 

SEPATU  BOOT
Oleh: Inok Binawa
Email: [email protected]
HP: 08121597059

Hujan deras masih saja mengguyur puncak Merapi. Sesekali terlihat kilatan cahaya petir, disusul bunyi guntur yang memekakkan telinga. Pepohonan meliuk-liuk diguncang angin ribut.  Gemuruh  hujan, angin, dan banjir di Kali Pabelan mengantar senja di  Remujung, dusun kecil di kaki Merapi. Di sana, di dalam rumah bambu yang mungil, seorang anak rebah di pangkuan emaknya.

”Dingin, Mak…!” rintihnya.

”Iya, Emak tahu. Pakailah selimut ini,” jawab Emak lembut. Selembar selimut kumal ia lurupkan di atas tubuh Tiyah, anak semata wayang. Lumayan, bisa sedikit menghangatkan dan melindungi gadis kecil itu dari tempias hujan yang menerobos i celah dinding bambu.

”Mak…,” rintih Wantiyah, ”Emak tidak takut?”

”Tentu tidak, Sayang! Tak ada yang perlu ditakutkan, Tiyah. Emak ada di sini,” jawab Emak lembut.

Tiyah tersenyum. Ia merasa tenang berada di pangkuan Emaknya, karena yakin bahwa Emak akan selalu melakukan hal terbaik untuknya. Wajarlah jika setiap ibu wajib  mendapatkan bakti anaknya. Tiyah jadi teringat cerita gurunya, Bu Winda, tentang hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember.. Dikatakan oleh Bu Winda bahwa setiap Hari Ibu sebaiknya setiap anak menunjukkan baktinya pada ibu secara istimewa. Misalnya dengan memberikan hadiah.

”Hadiah! Ya, hadiah,” gumam Tiyah.  Suaranya tertelan gemuruh hujan.

Emak masih saja membelai-belai rambut Tiyah. Matanya lurus memandang hujan melalui jendela yang telah lapuk. Tak ada keluhan tentang hujan sore itu. Tiyah tahu, pastilah Emak tidak takut. Mungkin Emak justeru mengharapkan hujan deras lebih sering mengguyur puncak Merapi. Sebab dengan begitu akan semakin banyak pasir dan batu yang hanyut memenuhi sungai. Itu berarti rezeki bagi Emak.

Esok paginya, setelah sarapan, Tiyah dan Emak berjalan beriringan, meninggalkan rumah, tetapi tujuan mereka berbeda. Tiyah pergi ke sekolah, sedangkan Emak akan turun ke Kali Pabelan untuk menambang pasir dan batu.

”Mak, kaki Emak kenapa? Kalau sakit, tidak usah mengumpul pasir dulu, Mak” kata Tiyah saat melihat Emaknya berjalan sedikit  pincang.

”Sudahlah, ini hanya rangen biasa. Kemarin lecet setelah Emak garuk. Tapi tidak apa-apa, Nak.”

”Tapi kalau terendam air, bisa tambah parah, Mak.”

”Pasir dan batu yang dikirim dari Merapi terlalu banyak, Tiyah. Itu rezeki kita. Sayang kalau kita lewatkan hanya karena rasa gatal di kaki Emak ini.”

”Tapi Emak harus janji  untuk mengolesi dengan salep setelah selesai nanti.”

”Tentu Tiyah! Nah, sekarang berangkatlah. Besok kalau pasir kita sudah laku, kau akan bisa menambah tabunganmu. Bukankah kau ingin ikut piknik ke Jakarta seperti teman-temanmu?” kata Emak penuh semangat.

Tiyah hanya tersenyum. Hatinya senang, Emak masih mengingat keinginannya untuk piknik ke Jakarta. Tapi, mungkin Tiyah tidak jadi ikut piknik karena sejak saat ini ia punya rencana lain.

Di sekolah, Bu Winda masih berbicara tentang Hari Ibu yang tinggal dua hari lagi. Ini semakin memantapkan hati Tiyah untuk memberikan sesuatu kepada Emak. Maka setelah pelajaran usai, Tiyah memberanikan diri menemui Bu Winda, guru kelasnya.

”Bu Guru, bolehkah saya minta tolong pada Ibu?” tanya Tiyah memberanikan diri.

”Tentu boleh! Ada apa, Tiyah?”

”Begini, Bu…”

Tiyah dan Bu Winda berbincang sangat serius di depan ruang UKS. Tampaknya Bu Winda sangat memahami keinginan Tiyah, demikian juga Tiyah sangat tulus berbicara kepada guru yang penyabar itu.

”Baiklah Tiyah, Ibu sangat salut dengan keinginanmu. Ibu akan membantu.  Kamu anak yang baik, Tiyah.”

”Terima kasih, Bu,” jawab Tiyah, matanya berbinar.

*        *        *

Dua hari setelah perbincangan itu, setelah pelajaran berakhir, Bu Winda menyerahkan kardus berbungkus kertas kado sangat indah. Itulah kado yang dipesan Tiyah untuk Emaknya. Tiyah sengaja mengambil sebagian tabungan sekolahnya, dan meminta Bu Winda untuk membelikan kado buat Emak. Tak mengapa jika akhirnya tabungannya tidak mencukupi untuk piknik ke Jakarta.  Ia Rela.

Tiyah meninggalkan sekolah dengan hati riang. Ia ingin sekali segera sampai di rumah untuk menyerahkan hadiah itu pada Emak. Pastilah Emak akan senang, batinnya.

”Mak, ini hadiah dari Tiyah, buat Emak.”

”Hadiah apa, Tiyah? Kaudapat dari mana?” Emak kaget.

”Ini Hari Ibu, Mak! Tiyah ingin memberikan hadiah untuk Emak karena Tiyah sangat sayang pada Emak.”

Emak membuka kado dengan hati bimbang. Di dalam kardus yang cukup besar itu didapatinya sepasang sepatu boot berwarna hijau tua. Emak menatapnya dengan heran, ”Sepatu boot? Untuk Emak? Mengapa, Tiyah?”

”Mak, kaki Emak, kan, sering  gatal-gatal, kalau terus-menerus terendam air tidak akan cepat sembuh. Dengan sepatu boot ini, kaki Emak akan terlindungi.”

”Tiyah…! Terima kasih, Nak. Kau memang anak yang baik, Tiyah,” kata Emak berlinangan air mata.

”Selamat Hari Ibu, Mak. Emak memang hebat…!”

Tiyah hanyut dalam dekapan Emak. Keduanya larut dalam keharuan. Rumah mungil itu terasa hangat oleh perasaan cinta mereka, meskipun di luar, hujan sudah mulai turun rintik-rintik.

 

Cerpen Pendidikan Moral

 

Kado untuk Pak Guru
Oleh: Inok Binawa
Email: [email protected]
HP: 08121597059

Kaki-kaki kecil Bimo mengayun cepat menyusuri gang-gang sempit sebuah perkampungan padat di pinggiran kota. Matahari sudah meredup, sinarnya tak lagi terik seperti siang tadi. Bimo semakin mempercepat langkahnya. Ia ingin segera sampai rumah untuk menumpaskan rasa dahaga yang menggelitik kerongkongannya. Tenggorokannya kering setelah latihan koor di aula tadi. Maklum, hari ini adalah latihan terakhir baginya sebelum tampil dalam upacara Hari Guru, besok pagi.

Sejak pagi, teman-temannya sudah berkasak-kusuk tentang hadiah yang akan dipersembahkan untuk para guru.

”Hari Guru besok pagi, hadiah apa yang kau siapkan untuk Pak Guru?” Winda memulai perbincangan.

”Aku serahkan pada Mama, aku tinggal bawa besok,” jawab Tisna.

”Mungkin aku akan menghadiahkan dasi,” timpal Lucki.

”Aku akan memberi buku,” kata Tisna.

”Papa ingin agar aku menghadiahkan kemeja batik,” sambung Raka.

”Kalau aku ….”

“Aku juga…”

Meskipun itu semua baru sebatas bisik-bisik, tetapi tak urung membuat hati Bimo risau. Hadiah? Dulu, sebelum ia pindah ke sekolah itu, ia tak pernah berpikir tentang hadiah. Bimo juga tidak pernah tahu bahwa ada hari guru. Yang Bimo tahu, terkadang ia dipulangkan awal karena guru-gurunya harus mengikuti upacara di kecamatan.

Itu dulu, sewaktu dia masih tinggal bersama nenek di dusun kecil di kaki Merapi. Sejak nenek meninggal, Bimo diambil Emak untuk ikut merantau di Jakarta. Oleh Bu Kinan, majikan Emak, Bimo dimasukkan ke sekolah yang sama dengan anaknya, Osa. Dia harus beradaptasi dengan sekolahnya yang baru, termasuk kebiasaan setiap hari guru.

”Hadiah…! Apa ya…?” gumam Bimo. Ia belum menemukan hadiah  yang paling cocok  untuk Pak Wijaya, guru yang sangat dikaguminya. Masalahnya, ia tak punya uang untuk membeli hadiah. Ia juga tak mau merepotkan Emak yang hanya bekerja sebagai pembantu. Ah, sudahlah, yang penting sampai di rumah dulu, baru nanti dipikirkan, batinnya. Ia semakin mempercepat langkahnya.

Seperti biasanya, sampai di rumah Bimo disambut sepi. Emak pasti belum pulang dari bekerja. Tak mengapa. Ia terbiasa mengurus diri sendiri. Maka,  ia pun segera menumpahkan dendamnya untuk minum sepuasnya. ”Sruppuutt…! Aaahh…, lega…!” gumamnya setelah mengosongkan dua gelas air putih.

Seharusnya Bimo masih memiliki sedikit waktu untuk beristirahat sebelum mandi sore, tetapi ia tak bisa tenang. Pikirannya masih terusik masalah hadiah. Bimo tahu, itu bukan suatu kewajiban, tetapi ia sangat ingin memberikan sesuatu untuk guru idolanya, Pak Wijaya!

Bimo hanya mondar-mandir di rumah kontrakan yang sempit. Sampai akhirnya pandangannya tertumbuk pada  sebuah kaleng bekas cat yang teronggok di pojok tempat sampah, di atas got. Di atas kaleng cat itu menjulur sebatang kecil pohon rambutan. Dulu, Emak memakai kaleng itu untuk menanam benih Jemani ketika tanaman hias itu sedang popular. Setelah masa jaya tanaman itu habis, Emak tidak mengurusnya lagi. Sekarang, kaleng cat itu menjadi media tumbuh biji rambutan –yang mungkin dibuang secara iseng– oleh seseorang.

”Yess..! Akhirnya kudapat juga,” desisnya, ”hadiah spesial untuk guru idolaku!”

Bimo segera membersihkan kaleng itu, mencuci pohon dan daunnya, lalu merapikannya, Setelah itu, ia masukkan kaleng ke dalam kotak kardus, membungkus dengan kertas kado, dan tetap membiarkan batangnya menjulur. Wow,…! Bimo berhasil mengubahnya pohon yang tadinya tak terurus itu menjadi kado unik yang menawan. Bimo masih terus mematut kado istimewa itu, sampai tidak menyadari kehadiran Emak.

”Hadiah buat siapa, Bim? Kau beli berapa tadi? Uang dari mana?…?” Emak memberondong dengan pertanyaan dan tatapan heran.

Bimo menjelaskan segalanya dari awal. Ia tidak ingin melihat emaknya cemas dan gelisah. Pasti Emak takut kalau-kalau Bimo melakukan hal yang tak benar. Namun, setelah mendengar penjelasan Bimo, Emak terlihat lega.

”Syukurlah, Bim! Emak jadi lega mendengarnya. Maafkan Emak, tak bisa seperti orang tua teman-temanmu.”

”Tenang saja, Mak! Bimo sudah sangat bangga punya Emak yang baik!” kata Bimo berjingkrak.

Pagi harinya, Bimo sampai di sekolah lebih awal dari biasanya. Ruang guru masih sepi ketika Bimo mengendap-endap untuk meletakkan hadiah spesial di meja Pak Wijaya. ”Yups…beres!” desisnya. Ia segera beranjak dari ruang guru menuju kelasnya. Setengah jam kemudian, Bimo sudah bergabung dengan kelompok paduan suara, dan membawakan lagu Hymne Guru dalam upacara.

Setelah upacara selesai, Pak Wijaya mendekati Bimo, ”Terima kasih, Bimo. Hadiahmu sangat spesial. Bapak sangat suka. Kau tahu, Bapak sedang mengembangkan tabulampot. Hadiahmu itu bisa menambah koleksi Bapak,” kata Pak wijaya dengan senyum yang hangat.

”Tabu…tabulam…pot?” tanya Bimo tak mengerti.

”Iya…! Tanam buah dalam pot! Sekarang sedang digemari. Siapa pun bisa menanam buah tanpa harus punya lahan yang luas.”

”Bapak kok tahu kalau…?” tanya Bimo ragu.

”Mang Timan yang memberi tahu saat Bapak sedang menimang-nimang pohon itu. Dia tahu, kau yang meletakkan tabulampot itu di meja Bapak,” jelas Pak Wijaya.

Di kelas, Pak Wijaya menjelaskan bahwa memberikan pohon sebagai hadiah adalah ide bagus. ”Lebih banyak orang yang menghadiahkan pohon kepada orang lain, maka akan lebih mudah mengatasi pemanasan global.”

Bimo sangat bersyukur hadiahnya disambut hangat oleh Pak Wijaya. Ternyata usahanya tidak sia-sia. Bimo bangga dengan idenya itu.


Nah itulah pembahasan mengenai cara membuat cerita pendek yang baik dan benar, mulai dari unsur intrinsik cerita, unsur ektrinsik hingga ke struktur kerangka cerita.

Semoga dari beberapa contoh cerpen singkat yang yang berhasil kami himpun, seperti contoh cerpen romantis bersama ibu dan contoh cerpen singkat lucu bisa menjadi referensi menulis karya sastra para pembaca.

Jika kamu butuh lebih banyak contoh cerita pendek berkualitas lainnya, langsung saja ajukan keinginanmu lewat kolom komentar dibawah ini. Semoga bermanfaat, sampai jumpa.

Leave a Comment