“Tahu”, Kunci Sukses Kita

“Tahu”, Kunci Sukses Kita

Tahu, dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat didefinisikan dengan makna pandai, cakap atau mengerti. Sedangkan untuk definisi sukses disini, kita persamakan persepsi terlebih dahulu sebagai sebuah keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya secara mapan.

“Sayangnya masih banyak orang yang belum tahu bagaimana cara meraih kesuksesannya.”

Banyak orang yang belum atau bahkan tidak mengetahui potensi besar dirinya. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Anugrah akal menjadi kelebihan sekaligus pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya.

Otak manusia sendiri memiliki milyaran sel saraf (neutron). Mampu menyimpan ratusan ribu informasi pada satu masa. Bahkan bisa mencapai jutaan informasi yang tersimpan dalam kurun waktu sepanjang hayat hidup seseorang.

Berdasarkan informasi yang tersimpan dalam otak, seseorang akan terbentuk tingkat pengetahuan. Semakin banyak dan beragam informasi yang diperolej, maka aka semakin luas pengetahuan seseorang.

Berbekal pengetahuan dan akal yang dimiliki setiap orang inilah, semua orang sebenarnya bisa mencapai kesuksesannya masing-masing. Tugas kita tinggal mengasah dan meningkatkan pengetahuan yang dimiliki, guna menunjang usaha kita dalam meraih tujuan yang diharapkan.

Tipe Penguasaan Pengetahuan

Beberapa literatur berkaitan dengan penguasaan pengetahuan yang dimiliki seorang individu, manusia dibagi menjadi 4 kategori. Berdasarkan pengkategorian inilah yang kemudian akan sangat berperan terhadap gambaran kesuksesan hidup seseorang.

Ada orang yang tahu sedikit tentang sedikit hal, tahu sedikit tentang banyak hal, tahu banyak tentang sedikit hal, dan yang terakhir orang yang tahu banyak tentang banyak hal.

Tahu Sedikit Tentang Sedikit Hal

Di era serba modern dan global seperti sekarang ini, saya rasa akan sulit atau bahkan tidak akan  ditemukan orang yang termasuk ke dalam kategori ini. orang dalam kategori ini hanya tahu sedikit tentang suatu hal, ditambah lagi pengetahuannya tentang hal serupa sangat sedikit sekali.

Contoh kasus orang dengan karakteristik ini adalah orang yang hanya tahu cara menanak nasi secara tradisional (didhang). Padahal sekarang ini ada cara yang lebih mudah dan modern, yaitu menggunkan mesin rice cooker.

Namun, ketika dia ditanya bagaimana cara menanak nasi secara tradisional yang baik. Dia tidak bisa menjawab dan menjelaskannya. Seperti  seberapa banyak takaran dan perbandingan beras dengan air? Kemudian berapa lama waktu pengkukusannya? Semua tidak diketahui olehnya

“Orang dengan jenis ini akan sulit berkembang dan sukses”

Padahal sekarang zaman sudah maju dan canggih, semua serba berbasis teknologi. Berbagai jenis informasi pun mudah diakses, bahkan malah membanjiri kita.

Menurut saya, apabila masih ditemukan orang semacam ini. Mungkin dia memang sengaja menutup diri   atau melokak terhadap perubahan, sehingga mengalami gagap teknologi.

Tahu Sedikit Tentang Banyak Hal

Kategori inilah yang saya rasa paling banyak dimiliki oleh orang-orang saat ini. Baik disengaja dan dengan sadar ataupun tidak. Bahkan sistem pendidikan kita saja orientasinya kok saya rasa ingin membentuk generasi dengan katerogi ini.

Tahu tentang ilmu sains tapi sedikit, faham juga tentang ekonomi tapi sedikit, dan sebagainya. Semua serba tahu tapi serba sedikit.

“Nanggung”

Orang-orang dengan kategori ini banyak tahu tentang banyak hal, tetapi hanya pada sisi luarnya saja. “kurang mendalam.”. Sehingga pengetahuan dan pijakannya terhadap ilmu terkait pun menjadi tidak kuat.

“Menjadi kurang professional. Kekompetenan terhadap bidang yang digelutinya perlu dipertanyakan.”

Tahu Banyak Tentang Sedikit Hal

Orang dengan karakteristik ini terkesan lebih professional. Merek hanya menguasai sedikit hal (satu atau dua) tetapi sangat mendalam pengetahuannya. Bisa di bilang expert di bidangnya.

Mereka tidak tertarik terhadap aspek-aspek yang berada diluar bidangnya. Informasi tersebut hanya dijadkan sebagai sumber pengetahuan sekunder dan tidak mau terlalu fokus di dalamnya. Mereka bakal fokus terhadap apa yang perlu ia ketahui dan kuasai sesuai dengan bidang yang digelutinya.

Tahu Banyak Tentang Banyak Hal

Inilah golongan orang yang paling sedikit jumlahnya. Termasuk ke dalam golongan orang yang multitalenta. Pengetahuannya luas dan meliputi banyak hal. Mereka adalah orang yang haus akan ilmu pengerahuan.

Termasuk Kategori Manakah Kita?

human trying to make the right choice

Menurut saya, kebanyakan dari kita pasti termasuk ke dalam tipe sedikit tahu tentang banyak hal. Bahkan mayoritas orang-orang Indonesia karakteristiknya seperti ini. “Termasuk saya.”

“Mengapa bisa seperti ini?”

“Kalau dugaan ya karena ada pngaruh dari konspirasi global.”

Disini saya tidak akan membahas tentang konspirasi global. Tapi harus diakui, mau tidak mau, hal itu memang ada. Tidak hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia. Bisa dikatakan semua aspek kehidupan tidak ada yang luput dari campur tangan mereka.

Termasuk dalam sistem pendidikan. Tentu saja, asumsi ini  tercetus berdasarkan pengalaman dan pengamatan yang saya alami selama ini.. Belasan tahun saya menjadi konsumen sistem pendidikan formal dalam negeri.

Di sekolah, kita dididik bukan agar bisa menjadi expert bidang yang kita pelajari. Tetapi kita dididik untuk tidak menguasai apa yang kita pelajari.

“Lho kok bisa?”

Coba saja kalian ingat-ingat, mulai dari tingkat SD berapa banyak mata pelajaran yang kita pelajari. Bahkan semakin tinggi jenjang kita, jenis mata pelajaran pun semakin beragam. Kira-kira apakah waktu yang ada efektif untuk mempelajari semuanya.

“saya rasa tidak.”

Buktinya, mulai dari SD hinggai SMA kita belajar bahasa Inggris tapi apa hasilnya? Apakah kita bisa aktif berkomunikasi dengan bahasa Inggris? Atau apakah kita bisa aktif menulis dengan Bahasa Inggris? silahkan kalian jawab sendiri?

Penerapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) saya nilai juga kurang tetap. Karena siswa yang kurang berbakat di bidang tertentu dipaksa untuk menguasainya. Tidak masalah siswa yang bersangkutan harus remidiasi berkali-kali, yang penting dia bisa memenuhi KKM.

“Bukankah ini suatu hal yang konyol?”

Kalau dianalogikan mungkin mirip dengan kasus seekor ular yang dipaksa harus bisa terbang, atau seekor kucing yang dipaksa harus bisa menggonggong. Sangat lucu dan tidak masuk akal. Tapi memang seperti inilah yang terjadi.

“Kita dipaksa mengetahui sedikit tentang banyak hal. Sehingga kita punya spesialisasi.”

“Terus bagaimana solusinya?”

Solusinya ya segera sadar. Kita ini termasuk kategori yang mana? Segera lakukan perbaikan diri, secepatnya!

Tipe Pengetahuan Penunjang Kesuksesan

Kunci sukses adalah harus memiliki profesionalitas pada bidang yang kita geluti. Tidak harus anda punya passion dalam bidang tersebut. Tanpa passion dan terpaksa pun bisa, asalkan anda berusaha professional dalam bidang tersebut.

Banyak contohnya, ada seseorang yang terpaksa menjadi pengasong es krim keliling karena dulu tidak sekolah. Karena ingin berubah, akhirnya ia berusa mencari pengetahuan yang belum ia ketahui sebelumnya berkaitan dengan es krim. Lambat laun, akhirnya ia bisa menjadi juragan es krim

Adalagi kisah pengamen jalanan yang menjadi penyanyi professional, pemulung yang menjadijuragan besi bekas, pedagang kaki lima yang kemudian memiliki rumah makan dengan ratusan cabang, dan masih banyak contoh lainnya lagi.

Jadi kesimpulannya, sebuah kesuksesan harus didukung dengan jiwa profesionalitas. Dimana sikap profesional itu sendiri hanya bisa terbentuk kalau kita tahu banyak hal tentang sedikit hal. Aspek ini pula yang akan menunjukkan spesialisasi kita itu sebenarnya di bidang apa.

Jangan lupa, ketika kita sudah mempunyai spesialisasi kita harus mengembangkan pengetahuan kita untuk tahu sedikit tentang banyak hal. Jadi dua tipe pengetahuan diatas saling terkait dan berkesinambungan.

“Jangan terbalik!”

Bayangkan kalau seorang pemimpin tidak punya spesialisasi atau kemampuan spesial terhadap bidang yang dipimpinnya?

“Apa kata dunia?”

 

Leave a Comment