Hukum Aqiqah Beserta Jawaban Masalah Populer Di Dalamnya

Hukum Aqiqah Beserta Jawaban Masalah Populer Di Dalamnya

Mempunyai buah hati, merupakan suatu dambaan dari setiap pasangan suami-istri. Namun perlu diinggat, bahwa dari setiap anak yang lahir mempunyai kewajiban yang harus dipenuhi dan ditunaikan oleh orang tuanya. Kewajiban tersebut adalah hukum aqiqah.

Dalil Aqiqah ini telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an, hadits, begitu juga oleh para ulama. Setiap orang tua yang mempunyai anak, berkewajiban untuk melakukan aqiqah terhadap setiap anak mereka.

Bagi anda, para pasangan keluarga muda baru maupun masyarakat umum yang belum begitu paham mengenai hukum dan tata cara aqiqah menurut Islam. Berikut kami mencoba mengulasnya secara mendetail beserta dengan penjelasan permasalahan maupun pertanyaan yang sering muncul menyertainya.

Pengertian Aqiqah

kewajiban hukum aqiqah anak
sumber: www.republika.co.id

Aqiqah menurut bahasa (KBBI), bermakna sebuah prosesi pemotongan. Pemotongan disini memiliki dua pengertian.

Pertama, kata memotong dalam artian mencukur rambut bayi yang di aqiqahi. Kedua,  kata memotong diartikan sebagai kegiatan menyembelih kambing kurban atau jenis hewan ternak lainnya atas kelahiran anak yang bersangkutan.

landasan dalil aqiqah

Dalam pengetahuan pada umumnya, aqiqah adalah suatu ritual ibadah dalam agama Islam yang dilakukan dengan cara menyembelih hewan kurban. Rprosesi ini dilakukan oleh umat Islam sebagai bentuk wujud rasa syukur, atas lahirnya seorang anak dalam keluarga. Baik itu anak laki-laki maupun perempuan.

Berberapa ulama menjelaskas, bahwa setiap bayi yang lahir di dunia itu tergadai dengan aqiqahnya. Dimana gadai tersebut dapat ditebus dengan aqiqah. Diyakini,  anak yang masih tergadai akan sangat rawan terkena gangguan jin.

Anak yang sudah ditebus (tidak tergadai), akan menjadikannya terlepas dari kekangan jin yang mengiringi setiap bayi yang terlahir.

Hukum Kewajiban Aqiqah

hukum-aqiqah-wajib-bagi-yang-mampu

Para ulama berbeda pendapat mengenai wajib tidaknya aqiqah dalam Islam.

Sebagaian ulama berpendapat, hukum aqiqah dalam Islam adalah wajib. Namun menurut jumhur ulama, dimana pendapat ini dinilai paling kuat dalilnya. Hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah, hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu.

Sunnah muakkadah dapat diartikan sebagai suatu anjuran yang sangat ditekankan untuk dilaksanakan. Sebab memiliki tingkat anjuran pelaksanaan yang lebih tinggi dibandingkan amalan sunnah biasa.

dalil hadits tentang aqiqah

Hikmah Aqiqah

hikmah-aqiqah-dalam-kehidupan-sosia

  • Sebagai wujud rasa syukur atas dikaruniakannya anak dalam sebuah keluar.
  • Sebagai sarana menyebarluaskan berita atas kelahiran anak kepada lingkungan sekitar.
  • Menumbuhkan ikatan antara anak dengan orang tua.
  • Ikut berperan mengatasi masalah sosial yang ada dilingkungan sekitar, khususnya dalam hal memberi kesempatan kepada orang yang kurang mampu untuk menikmati daging.
  • Mempererat hubungan antar masyarakat.

Syarat Kambing Kurban Aqiqah

kambing kurban aqiqah
sumber: http://citizencarehousing.com/goat-farming/

Lantaran adanya keringan dalam memilih jenis kelamin hewan aqiqah, terkadang masih ada orang yang salah persepsi akan hal tersebut.  Dimana kemudian ada yang memilih secara asal-asalan, yang penting kambing bisa untuk aqiqah.

Hal tersebut tidaklah benar.  Syarat hewan sembelihan untuk aqiqah memiliki ketentuan dan kriteria sebagai mana hewan sembelihan untuk kurban idul adha. Syarat dan ketentuan tersebut, sebagai berikut:

  • Jenis hewan yang dipakai untuk aqiqah adalah jenis mamailia yang berukuran kecil, seperti kambing, domba dan biri-biri.
  • Umur hewan aqiqah, untuk kambing minimal sudah lebih dari dua tahun. Sedangkan untuk domba dan biri-biri minimal berumur sekitar satu tahun atau kurang sedikit.
  • Secara fisik, hewan yang dipilih untuk aqiqah haruslah yang bagus, sehat, tidak sakit dan tidak cacat. Yang termasuk ke dalam kriteria tidak cacat disini adalah tidak buta matanya (walaupun yang buta hanya mata sebalah), tidak mengalami pincang (dimana dapat secara jelas kita lihat pincangnya), terpotong ekor maupun telinganya (terpotong lebih dari sepertiga bagian), ompong giginya (baik karena sudah tua maupun karena sakit), kurus kering, lumpuh, dan gila (sehingga tidak bisa digembalakan).
  • Sedangkan untuk jenis kelaminnya, tidak ada persyaratan khusus. Boleh berjenis kelamin jantan maupun betina.

Perlu diperhatikan, bahwa walaupun kita dilarang menggunakan hewan cacat untuk aqiqah.  Terdapat beberapa cacat yang tetap diperbolehkan ada pada hewan aqiqah yaitu seperti:

  • Tanduk patah
  • Bulu rontok
  • Ompong gigi, karena memang memasuki masa pergantian
  • Luka atau sakit ringan yang tidak membahayakan kelangsungan hidup hewan bersangkutan

Syarat Umur Ternak Berdasarkan Hukum Aqiqah

umur-ternak-berdasarkan-hukum-aqiqah
sumber: https://modernfarmer.com

Aqiqah anak merupakan suatu ibadah, sehingga sudah sepantasnya kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Agar ibadah kita bisa menjadi sempurna, maka apa yang kita lakukan haruslah sesuai dengan perintah dan tuntunan hadits tentang aqiqah. Begitu juga dalam memilih umur hewan untuk aqiqah.

Hadits-aqiqah-mengenai-umur-ternak

Sebenarnya tidak terdapat hadits yang secara jelas dan rinci membahas mengenai syarat umur kambing kurban atau hewan ternak lain yang bisa digunakan untuk aqiqah. Bahkan nash (ayat alquran tentang aqiqah maupun hadits tentang aqiqah) yang membahas tentang hal ini sangat sedikit jumlahnya, berbeda dengan nash berkurban yang lebih banyak dan rinci penjelasannya.

Karena keterbatasan literatur yang ada, maka kemudian sebagian ulama mengkiaskan hukum aqiqah dengan kurban.

Berdasarkan hal tersebut, maka patokan umur hewan aqiqahpun didasarkan pada ketentuan yang ada pada hewan kurban. Yaitu untuk kambing berumur satu tahun (musinnah), atau kalau sulit untuk ditemukan boleh yang masih berumur enam bulan (jadza’ah).

Perlu digarisbawahi, bahwa yang menjadi patokan dalam menentukan umur kambing bukanlah berdasarkan telah tanggalnya gigi. Hal ini dikarenakan dalam beberapa kasus, ditemukan ada kambing yang berumur lebih dari satu tahun tetapi tidak tanggal giginya.

Waktu Pelaksanaan Aqiqah 

anjuran-pelaksanaan-kewajiban-hukum-aqiqah
sumber: https://www.sitepoint.com

Waktu pelaksanaan aqiqah yang dianjurkan berdasarkan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pada hari ketujuh dari kelahiran anak.

dalil-aqiqah-hari-ketujuh

Apabila orang tua belum bisa melakukannya pada hari ketujuh, maka disunnahkan dilakukan pada hari kelipatan dari tujuh.

Sehingga ketika pada hari ketujuh belum mampu untuk melakukan aqiqah, maka disunnahkan  untuk melakukannya pada hari ke empat belas. Apabila belum bisa juga, maka disunnahkan untuk dilakukan pada hari ke dua puluh satu.

dalil-waktu-aqiqah-anak

Namun apabila hingga hari ke dua puluh satu, orang tua anak belum sanggup melaksanakan aqiqah maka aqiqah boleh dilaksanakan dilain waktu ketika sudah mampu.

Penanggung Jawab Pelaksanaan Hukum Aqiqah

tanggung-jawab-implementasi-hukum-aqiqah
sumber: http://www.tugassekolah.com

Pada dasarnya kewajiban pelaksanaan aqiqah anak adalah tanggung jawab dari orang tua dari anak yang dilahirkan. Namun beberapa ulama mempunyai perbedaan pendapat, mengenai kemungkinan orang lain selain orang tua untuk bertanggung jawab terhadap pelaksanaan aqiqah.

  • Pendapat Pertama (Tanggung Jawab Mutlak Ada Pada Ayah)

Pendapat ini diutarakan oleh ulama dari kalangan Hambali dan Maliki. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits tentang aqiqah, bahwa ayahlah yang bertanggung jawab terhadap aqiqah anaknya. Pendapat ini juga dikuatkan oleh pernyataan Imam Ahmad.

  • Pendapat Kedua (Ditanggung Langsung Oleh Anak atau Si Ibu)

Ketika sang ayah tidak sanggup melakukan aqiqah untuk anaknya, namun disisi lain si anak mempunyai harta dan mampu melakukannya sendiri. Maka tanggung jawab aqiqah merubah menjadi tanggungan anak tersebut.

Namun ketika ia sudah tidak memiliki ayah. Ibnu Hazm Adhzahiri berpendapat bahwa tanggung jawab aqiqah ada pada ibunya.

  • Pendapat Ketiga (Tanggungan Wali Anak)

Kewajiban aqiqah tidak harus selalu menjadi tanggung jawab orang tua. Tetapi bisa juga menjadi tanggungan bagi mereka yang merawat anak terkait, dalam hal ini wali anak. Pendapat ini muncul didasarkan pada peristiwa ketika Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam mengaqiqahi kedua cucunya, Hasan dan Husein.

  • Pendapat Keempat (Semua Orang Yang Berada Disekitar Anak)

Pendapat terakhir menyatakan bahwa kewajiban aqiqah adalah tanggung jawab semua orang yang mempunyai ikatan dengan sang anak, tidak dikhususnya pada orang tertentu.

Bisa karena ikatan darah seperti paman, bibi maupun sanak saudara lainnya. Bahkan orang asing pun juga diperbolehkan. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Hajar dan Syaukani. Berdasarkan hadits yang menyatakan tidak adanya qayid yang jelas atas kewajiban aqiqah.

Hukum Penyaluran Daging Aqiqah

hadits-aqiqah-terkait-distribusi-daging
sumber: pixabay.com

Daging hewan kurban aqiqah bisa disalurkan baik dalam keadaan daging mentah maupun sudah berupa makanan matang. Yang terpenting jangan didistribusikan dalam keadaan masih hidup. 🙂

Penyaluran bisa dilakukan dengan cara mengundang orang-orang untuk berdoa dan makan-makan dalam sebuah acara syukuran. Bisa juga didistibusikan secara langsung kepada orang-orang tertentu. Jangan lupa untuk mengutamakan mereka yang ada dilingkungan sekitar tempat anak tinggal dengan target utama adalah fakir, miskin dan anak yatim.

Para ulama menganjurkan untuk membagi daging hewan aqiqah menjadi tiga bagian. Tiga bagian ini dibagi rata kepada ahlul bait, kepada orang lain sebagai suatu bentuk hadiah dan yang terakhir untuk dijadikan sedekah.

Karena pembagian proporsi untuk hadiah dan sedekah lebih condong kearah sosial. Maka disarankan pula untuk membagikannya dalam keadaan matang, bukan daging mentah. Hal ini tidak lain bertujuan agar memudahkan serta tidak merepotkan pihak yang menerimanya.

Pertanyaan Umum Seputar Hukum Aqiqah

Dalam hukum aqiqah, semua ketentuan diambil dan didasarkan pada ayat al-qur’an dan hadist tentang aqiqah. Namun pada umumnya, masyarakat mempunyai keterbatasan untuk memahami sumber hukum aqiqah tersebut.

Dikarenakan hal tersebut, masyarakatpun sering mempunyai pertanyaan terkait penerapan hukum aqiqah. berikut beberapa pertanyaan yang sering membuat masyarakat bingung terkait aqiqah:

Perbedaan Hukum Aqiqah Antara Anak Laki-laki Dengan Anak Perempuan?

 

perbedaan-hukum-aqiqah-anak
https://www.healthymummy.com

Menentukan hewan untuk aqiqah, sebaiknya cari dan piilihlah hewan aqiqah yang sempurna. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam, yaitu memilih kambing kurban jantan yang sehat dan kuat.

Ketentuan jumlah hewan aqiqah untuk anak laki-laki sebanyak dua kambing, dan satu kambing untuk anak perempuan.

hukum-aqiqah-berbeda-antara-anak-laki-laki-dengan-anak-perempuan

Hukum Aqiqah Membolehkan Berkurban Menggunakan Selain Kambing Dan Patungan Aqiqah

hukum-aqiqah-membolehkan-kurban-selain-kambing
sumber: pixabay.com

Aqiqah menggunakan kambing adalah contoh yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam. Oleh sebab itu, beberapa orang memilih mencari amannya saja, mereka aqiqah dengan menggunakan kambing.

dalil-aqiqah-keutamaan-kambing

Namun dalam hukum aqiqah tidak ada pula larangan yang tegas melarang beraqiqah menggunakan hewan ternak selain kambing. Asalkan masih termasuk mamamia yang sering digunakan untuk berkurban. Jadi boleh menggunakan unta, sapi, atau domba, tetapi tidak boleh mengganti kambing aqiqah menjadi ayam, bebek, kelinci dan sebagainya.

hukum-aqiqah-tidak-melarang-penggunaan-ternak-kurban-selain-kambing

Karena syarat dan hukum aqiqah sama dengan syarat dan hukum kurban. Maka ketika ada orang yang patungan dalam hewan aqiqahpun diperbolehkan, walaupun mereka mempunyai niat yang berbeda-beda.

Contohnya ada tujuh orang patungan membeli sapi, empat orang diniatkan untuk berkurban, satu orang hanya berniat untuk dikonsumsi biasa saja, dan 2 orang berniat untuk aqiqah. Hal seperti tersebut boleh dan sah untuk dilakukan.

Hukum Aqiqah Ketika Sudah Baligh (Dewasa)

Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh masyarakat. Pada faktanya memang tidak sedikit yang belum pernah diaqiqahi walaupun sudah baligh.

Kondisi seperti tersebut bisa terjadi, baik karena disengaja maupun tidak. Disengaja, karena memang kondisi belum mampu untuk melaksanakannya. Dan yang tidak sengaja biasanya karena mereka belum mempunyai pengetahuan mengenai anjuran aqiqah ini.

Maka ketika kita sudah mengetahui akan kewajiban hukum ini. Segerakanlah untuk memunaikannya, apabila memang keadaan orang tua atau diri kita sendiri mampu untuk melaksanakannya.

Tanggung jawab aqiqah atas seorang anak merupakan kewajiban yang dibebankan kepada orang tua dari setiap anak yang lahir. Bahkan anak yang belum teraqiqahi, statusnya masih tergadai atau belum ditebus.

Namun bagi mereka yang hingga dewasa belum teraqiqahi karena orang tua belum mampu untuk melakukannya. Maka mereka (orang yang belum diaqiqahi waktu kecil) bisa menyembelih aqiqah untuk dirinya sendiri, sebagai bentuk penebus gadai sekaligus penggugur kewajiban orang tua.

hukum-aqiqah-untuk-diri-sendiri

Leave a Comment