Teman Sekamarku Pengidap HIV

Teman Sekamarku Pengidap HIV

Mendengar kata Human Immunodeficiency Virus (HIV), perasaan ngeri biasanya akan langsung muncul di benak kita. Takut tertular adalah alasan yang sering menjadi penyebabnya. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh. Berdampak pada melemahnya kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit. HIV belum bisa disembuhkan, tetapi ada pengobatan yang bisa digunakan untuk memperlambat perkembangan penyakit ini.

Coba banyangkan kalau mendengarnya saja sudah ngeri, bagaimana perasaan kalian bila harus hidup bareng dengan mereka. “iya, saya pernah tinggal, makan, tidur bareng sekamar dengan penderita HIV”

Pengalaman ini terjadi sekitar tahun 2015. Waktu mengikuti sebuah program character building di Kota Bandung. Diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai penjuru Indonesia, termasuk dari Singapura dan Malaysia.

Para peserta dilokalisasi ke dalam semacam camp. Dipisah antara peserta laki-laki dan perempuan. “Ya iyalah, kalau digabung mah yang cowok pasti mood on”. Setiap hari kami digembeng baik secara fisik maupun mental. Mulai sebelum matahari terbit hingga matahari terbenam.

Camp terdiri dari lokal-lokal ruang berukuran besar. Ruang tidur peserta mirip seperti barak militer. Beralaskan kasur setebal 10 cm tanpa dipan. Peserta tidur bersama sekitar 10-15 orang dalam satu ruang.

Rutinitas kegiatan dilaksanakan dengan sistem semi militer. Seluruh kegiatan harus dilaksanakan secara kolektif, mulai dari makan, piket, tidur dan sebagainya. Aturan ini dibuat dengan tujuan mempererat jiwa korsa peserta.

“Seluruh peserta push up! 1… 2… !”, perintah pelatih kepada kami akibat ada yang belum selesai makan sesuai waktu yang ditentukan. Sanksi menanti seluruh tim apabila ada salah satu anggota yang melanggar peraturan.

Rutinitas keseharian kami sangat padat dan menguras fisik. Tak heran satu per satu peserta mulai jatuh sakit. Bang Zidan (bukan nama sebenarnya) termasuk di dalamnya.

Bang Zidan berasal dari Jakarta, duda berumur 26 tahun dan sudah mempunyai seorang anak perempuan. Kondisinya bisa dibilang cukup  memprihatikan dan membuat kami anggota satu tim yang mengurusnya sedikit khawatir. Biasaya dia hanya bisa mengikuti program selama sehari penuh, dan setelah mengikuti kegiatan bakal ngedrop selama tiga-lima hari.

Kondisinya semakin hari semakin parah, hingga tidak bisa bangun dari tempat tidur. “Mungkin dia lagi sakaw”,  bisik salah satu teman.“

Kontan semua kaget. “Masa iya sakaw dalam program seperti ini. Jagoan amat?”.

“Katanya dia lagi proses rehabilitasi narkoba dan sekarang juga positif HIV”

“Serius woy?”, tanya saya kepada Fadil, salah satu teman sekamar yang memberi tahu kalau Bang Zidan adalah ODHA (Orang Dengan HIV Aids/ Sebutan bagi penderita HIV). “Eh maaf tadi aku pinjam sabun sama sikat gigi yang ada disana, gak tahu punya siapa. Makasih ya”, perasaan ini semakin syok teringat dimana Bang Zidan pernah meminjam peralatan mandi dari salah satu kita teman sekamarnya.

Kami khawatir, sikat gigi kitalah yang dipinjam waktu itu. Takutnya kita bakal tertular. Seketika camp menjadi heboh akibat berita ini.

Semenjak kejadian, sikap teman-teman yang bertugas menjaganya pun menjadi sedikit berubah dan menjaga jarak.

Akhirnya pada pertengahan program, Bang Zidan memutuskan untuk mengundurkan diri karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan.

Kejadian ini mengajarkan kita untuk mampu bersikap sebagaimana mestinya. Baik sebagai ODHA maupun orang yang berada disekitar ODHA.

Bagi ODHA, sudah sepatutnya ia paham tentang penyakitnya. Tindakan berisiko seperti meminjam alat pribadi orang lain (dalam hal ini contohnya sikat gigi) orang lain sudah seharusnya tidak dilakukan. Saya rasa, penyebab hal tersebut dilakukan oleh Bang Zidan karena efek dari narkoba yang sudah mempengaruhi pola pikirnya.

Efek narkoba yang telah mempengaruhi pola pikirnya ini bisa dilihat ketika kita berkomukasi dengannya. Cara komunikasi seperti anak-anak, jawabannya sering berubah-ubah dan sering linglung. Perlu digarisbawahi, ini adalah penilaian subjektif saya. Jangan dijadikan parameter dalam menilai pecandu dan besar kemungkinan berlawanan dengan teori dunia medis.

Bagi kita orang yang berada disekitar ODHA, jangan berikan stigma negatif kepada mereka apalagi menstigmanya sebagai kriminal. Besar kemungkinan kita tidak tahu apa yang menjadi penyebab mereka mengidap penyakit ini. Bisa saja mereka dijebak oleh sindikat sebagaimana yang terjadi terhadap Bang Zidan. Untuk kasus pasangan suami-istri besar kemungkinan mereka tertular dari pasangan, dan bagi anak-anak kemungkinan ia tertular dari orang tuanya.

Secara manusiawi sudah sepatutnya kita mensupport mereka untuk bangkit dan berubah. Jangan kucilkan dan menstigma negatif mereka. Besar kemungkinan para ODHA adalah korban juga. Mereka butuh kita dan kita butuh mereka

“Coba bayangkan kalau misalnya ODHA frustasi terhadap perlakuan kita, kemudian mereka nekad menyebarkan penyakit ini kepada masyarakat umum?” walapun saya yakin mereka tidak akan melakukan hal semacam ini, bahkan terlintas dipikiran merekapun tidak pernah.

Salah satu teman cerita, ketika bangun tidur mau ke kamar kecil ia secara tidak sengaja memergoki Bang Zidan diduga kuat sedang ‘ngobat’. Karena takut nanti dikira terlibat, akhirnya ia berlagak tidak melihat dan langsung kembali tidur. Dugaan ini diperkuat dengan kondisi kesehatan Bang Zidan yang membaik di hari berikutnya. Kami menduga, kemungkinan besar obat tersebut diperoleh dari temannya yang sempat menjenguk.

Selidik punya selidik, ternyata panitia sudah mengetahui hal ini. Awalnya panitia sempat menolak, tetapi karena yang bersangkutan memohon dibantu untuk melakukan perubahan akhirnya panitia memberi kesempatan

Fadil menambahkan, sebenarnya sejak awal dia tahu akan kondisi Bang Zidan. Bang Zidan sendiri yang secara sukarela cerita diawal perkenalan mereka.

Dari Fadil diketahui ternyata Bang Zidan terkena HIV akibat sering menggunakan jarum suntik secara bergantian. Mulai mengenal Narkoba semenjak SMK, dipaksa oleh kenalannya di jalanan untuk mencoba secara gratis.

Masuk ke dalam perangkap, akhirnya dia menjadi pecandu setelah mencoba. Barang yang semula bisa diperoleh gratis, berubah berbayar ketika ingin mendapatkannya. Sebagai seorang pelajar tentu uang yang dimiliki terbatas, maka terkadang menjadi kurir narkobapun harus dilakoninya.

Hidupnya semakin kacau saat istri menggugat cerai dan melarang bertemu anaknya. Bang Zidan telah mencoba berhenti tetapi selalu gagal. Ia meresa tidak ada support dari orang terdekat yang dicintai dan diharapkan.

Baru sadar saya, ternyata kisah dan modus operandi sindikat semacam ini memang beneran ada. Bukan bualan kosong belaka. Mereka tidak peduli terhadap kerusakan yang ditimbulkan dari tindakannya.

Kisah Bang Zidan mengajarkan kepada kita untuk jangan menyalahgunakan narkoba just for fun, apalagi hanya iseng. “Sebuah tindakan konyol dan bodoh”. Begitu banyak pecandu gagal berhenti dan bebas dari narkoba. Biasanya mereka tidak tahan mengalami sakaw ketika proses rehabilitasi. Jalan keluarnya ya bisa ditebak, mereka kembali mengkonsumsi narkoba. Namanya saja sudah jelas, candu. Pastinya bakal menyebabkan kecanduan.

Proses penyembuhan ketergantungan narkoba itu tidak mudah. Begitu banyak pecandu yang gagal dan berakhir overdosis.

Teringat pendapat yang pernah diutarakan oleh Cak Nun, beliau pernah menangani banyak kasus sejenis. Sejauh pemahaman saya terhadap penjelasan beliau, sampai sejauh belum ada metode yang mampu mengatasi masalah ketergantungan narkoba.

Mau si pecandu dianclup-anclupke ke dalam air, dibawa ke pusat rehabilitasi atau bahkan dimasukkan ke dalam pesantren pecandu.  Namun dalam diri yang bersangkutan tidak ada tekad yang kuat untuk berhenti. “Mustahil mereka bakal sembuh. Mereka bakal mengkonsumsinya lagi ketika tidak kuat menahan sakaw”

“Pecandu narkoba itu harus diisin-isin terutama terkait tindakannya”, jelas Cak Nun

Saya sependapat dengan pernyataan beliau. Ketika seseorang ‘direndahkan/ digobok-goblokan’ karena melakukan hal yang tidak berguna, besar kemungkinan akan muncul rasa tersinggung. Sehingga orang yang bersangkutan akan berusaha membuktikan kepada orang lain bahwa dirinya masih punya harga diri, punya martabat. Semua penilaian orang terhadap dirinya salah.

Pembuktian harga diri inilah yang akan mendorong seseorang memiliki tekad yang kuat untuk berubah.

 

Leave a Comment