Berkenalan Dengan Maiyah

Berkenalan Dengan Maiyah

Kata maiyah, saya rasa adalah sebuah kata yang asing bagi kalian. Mungkin hanya segelintir orang yang  mengenalnya. Apalagi generasi milenial sekarang, bisa jadi baru tahu kata maiyah ya gara-gara tulisan ini.

Berbeda kasus, kalau misalnya yang disebut adalah kata “Cak Nun”. Generasi old atau generasi orang tua kita pasti banyak yang tahu tentang beliau. Bahkan tidak sedikit generasi kids zaman now yang tahu akan sosok Cak Nun, karena beberapa kali video beliau viral di jejaring dunia maya.

 

Saya sendiri lupa, kapan pertama kali tepatnya saya mendengar kata maiyah. Saya rasa sekitar tahun 2013 atau 2014, pokoknya ketika pertama kali mengikuti acara Sinau Bareng Cak Nun di salah satu kampus di Jogja.

“Sedangkan untuk sosok Cak Nun sendiri, saya baru kenal sosoknya secara tidak sengaja ketika masih SMA sekitar kelas 3.”

Perlu diketahui, bahwa sebelumnya (hingga menjelang akhir kelas 3 SMA) saya tidak mengenal Maiyah dan belum mengetahui Cak Nun, juga Kiai Kanjeng. Semua masih asing termasuk mendengarkan Cak Nun berbicara.

“Wajah Cak Nun saja belum pernah tahu, apalagi wajah personil Kiai Kanjeng,”

Waktu itu, Bapak sedang menonton tayangan TV lokal Jogja “Mocopat Syafaat”, dimana acara tersebut menampilkan Cak Nun beserta timnya. Pertama kali melihat saya tidak ada ketertarikan di dalamnya. Lha wong saat itu, sosok Cak Nun sebagai pengisi acara saja saya belum pernah dengar. “Apalagi kenal.”

“Acara apa ini?”, Inilah pertanyaan yang saya lontarkan kepada Bapak ketika pertama kali menonton tayangan Mocopat Syafaat.

Tayangan televisi kok semakin aneh-aneh saja. Masak sebuah acara televisi kok menampilkan penonton dan salah satu pembicara di atas panggung merokok selama acara berlangsung.

“Sebuah hal yang tidak sopan dan tidak patut ditiru.”, gerutu saya karena merasa tidak setuju dengan apa yang saya lihat.

Awal Mula Muncul Ketertarikan

Acara Mocopat Syafaat disebuah TV lokal Jogja adalah sebuah acara mingguan. Ditayangkan seminggu sekali, setiap hari kamis malam. Sekitar dua minggu setelah kejadian pertama menonton Mocopat Syafaat, secara tidak sengaja saya menontonnya lagi.

“Saat itu, sebelum acara dimulai saya memang sedang menonton channel TV lokal Jogja”

Belum sempat saya ganti ke channel lain, tiba-tiba tayangan acara Mocopat Syafaat sudah dimulai.

“Demi cinta Tuhan kepada kita semua. Serta demi cintaku kepadamu, aku ucapkan kata-kataku…”

Opening Mocopat Syafaat langsung membius saya. Sebuah shalawat yang disertai dengan musikalisasi puisi yang sangat sarat makna dan menyentuh kalbu. Membuat saya tertarik untuk lebih mengenal mereka.

Ya Hafidz (Wirid penjagaan), ternyata adalah judul dari tayangan opening acara Mocopat Syafaat. Seketika, semua persepsi negatif saya terhadap acara ini hilang. Semakin saya mencoba mencari informasi tentang Cak Nun dan timnya, semakin bertambah pula ketertarikan saya untuk mengenalnya lebih jauh.

Sepenilaian saya, Cak Nun dan tim ini selalu mengedepankan pendekatan sosial budaya ketika berinteraksi dengan audiennya. Mungkin karena hal ini pula, yang membuat saya menjadi sefrekuensi dan tertarik dengan beliau.

Saya sendiri, bisa dikata suka akan seni. Mulai dari musikalisasi puisi, tari tradisional, paduan suara hingga ke teater.

Apa itu Maiyah?

Dalam teori, maiyah berasal dari kata ma’a, yang artinya bersama, beserta Ma’iyyatullaah, kebersamaan dengan Allah. Ma’iyyyah itu kebersamaan, Ma’anaa bersama kita. Ma’iya, bersamaku.

Lantas kata-kata dan bunyi Arab itu kesandung oleh lidah etnik kita menjadi Maiya, atau Maiyah, atau Maiyahan (Andsisko dalam artikel “maiyah adalah.. (tafsir bebas)).

Maiyah adalah sebuah nama forum diskusi yang rutin dilakukan setiap bulannya, dan sudah berlangsung selama puluhan tahun tanpa henti. Forum diskusinya sederhana. Namun semua ilmu dielaborasi bersama.

“Sedangkan Maiyahan adalah istilah yang sering dipakai ketika ingin mengikuti acara maiyah.”

Ribuan orang selalu hadir dalam acara maiyahan. Baik laki-laki, perempuan, tua, maupun muda. Tanpa memandang profesi, latar pendidikan, suku, agama maupun ras, semua berkumpul untuk belajar bersama.

Dalam setiap acara Maiyah selalu diisi dengan pembacaan Al-Qur’an, shalawat, wirid, diskusi, dan hiburan lagu atau puisi.

Cak Nun sendiri, tidak pernah mendeklarasikan bahwa maiyah adalah sebuah acara pengajian. Beliau menjelaskan bahwa maiyah itu tempatnya sinau bareng.

Acara maiyahan biasa berlangsung selama 6-8 jam, dimulai selepas isya hingga menjelang subuh. Anehnya ribuan orang ini tidak beranjak dari tempat duduk sebelum acara selesai. Bahkan yang terlihat keluar dari kerumunan untuk buang air kecil saja bisa dihitung jumlahnya.

“Seakan-akan acara ini mampu menghipnotis para audiens untuk memfokuskan konsentrasi mereka hanya kepada acara saja.”

Maiyah pun tidak lepas dari pro kontra. Walapupun sudah dijelaskan bahwa maiyah bukanlah sebuah kegiatan pengajian, tapi orang yang kontra menganggapnya sebagai sebuah pengajian sesat. Mungkin maiyah dianggap sebagai sebuah pengajian karena sering membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan agama dan acaranyapun bernuansa islami.

Pihak kontra, biasanya mereka mengkritik kenapa tidak dipisah antara laki-laki dan perempuan? Kenapa saat acara berlangsung boleh merokok, bukankah itu tidak sopan? Kenapa penontonnya tidak disuruh berpakaian yang sopan? Sebab ada yang tidak jilbaban, ada yang pakai celana pendek, bahkan pakai kaos oblong dan sebagainya.

Itulah sekilas penilaian saya terhadap orang yang kontra dengan maiyah. Saya tidak akan membahas yang mana yang benar dan yang mana yang salah? Perbedaan itu merupakan suatu hal yang biasa, sunnatullah. Yang terpenting jangan paksakan pendapat kita, kepada mereka yang berbeda dengan kita.

“Karena sejatinya kita sama-sama lagi mencari kebenaran. Dan kita semua hanya bisa berbaik sangka, tidak bisa memastikan bahwa apa yang kita anggap benar itu memang benar dihadapan Allah.”

“Saya yakin!”. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman beberapa kali mengikuti acara maiyah, sebenarnya Cak Nun dan tim secara tidak langsung ingin menumbuhkan rasa spiritualitas audiennya.

Sebuah strategi dakwah yang halus dan tidak terasa.

Kelebihan Maiyah

Maiyah selalu berusaha mengajari audiennya tanpa berusaha menggurui. Audien diajak diskusi dan berfikir. Karena sejatinya, secara naluriah manusia itu tidak suka digurui. Sebab mereka merasa harga dirinya seperti direndahkan dengan hal itu.

Maiyah juga mengakomodir serta memfasilitasi semua orang yang ingin menjadi lebih baik. Bahkan tanpa paksaan dan syarat-syarat. “Silahkan lakukan perubahan sesuai dengan kemampuan.”

Hal ini bisa dilihat ketika acara maiyah berlangsung. Ada yang berpakaian rapi, tapi ada yang pakaiannya amburadul dan terkesan kurang sopan. Ada yang sangat menjunjung tinggi etika, tapi tidak jarang dapat temui audien yang menurut kebanyakn orang tidak sopan tindak tanduk maupun tutur katanya.

“Semua diterima dalam Maiyah. Tidak masalah.”

Inilah salah satu kunci diterimanya Maiyah oleh masyarakat. Bahkan mayoritas, lebih dari 75% audien Maiyah adalah anak-anak muda dengan rentang usia 20-35 tahun. Sebuah hal yang sulit ditemui dalam kegiatan sejenis.

“Mohon maaf. Kalau dalam acara pengajian pada umumnya justru yang 75% itu adalah yang berusia diatas 50 tahun.”

Saya rasa, inilah jalan dakwah Cak Nun dan tim. Jalan dakwah yang berbeda. Mentarget mereka-mereka yang termarginalkan dan luput dari perhatian juru dakwah pada umumnya.

Perubahan Setelah Mengikuti Maiyah

Jujur saja, sampai saat ini saya masih jauh dari kata baik. Tetapi beberapa kali mengikuti acara maiyah baik, secara langsung maupun melalui rekaman youtube. Banyak pelajaran dan pengetahuan baru yang saya dapatkan serta turut merubah mind set saya dalam merespon segala sesuatu.

Melalui Maiyah pula saya menjadi tahu, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia itu tidak sekaku seperti yang kita ketahui selama ini. Di dunia ini tidak hanya ada hitam dan putih, tetapi ada juga warna abu-abu, jingga, kuning dan sebagainya.

Esensi dakwah itu adalah mengajak. Jangan bangga bila ada orang yang tersesat atau berperilaku buruk. Jangan malah melabelling dan mensesat-sesatkan orang sesat. Seharusnya kita bersedih dan berusaha menolong mereka dari kesesatan.

Berusahalah menjadi baik bersama-sama. Jangan sinis, apalagi suka memvonis. Segala sesuatu yang kita anggap benar sekarang, bisa jadi ketika ilmu kita telah bertambah akan berubah menjadi tidak benar lagi.

Sebaik-baiknya diri kita, cobalah cari keburukannya. Pasti banyak, karena manusia itu tempatnya khilaf dan salah. Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari dan memikirkan keburukan orang lain, tetapi lupa dengan keburukan diri sendiri.

Seburuk-buruknya orang lain, cobalah cari kebaikannya. “Pasti ada.”. Jangan sampai kita merendahkan meraka, bisa jadi sikap buruk kita dalam merendahkan orang lain inilah yang menyebabkan kita dimurkai-Nya. Dan bisa jadi pula, kebaikan yang sedikit dari orang yang berperangi buruk itulah yang membawanya untuk memperoleh ridho-Nya.

Dunia ini penuh dengan keghaiban. Tidak selalu berjalan secara linear. Janganlah pernah merasa dirinya paling benar sendiri.

Leave a Comment