Tinggal Bersama Penderita Kleptomania

Tinggal Bersama Penderita Kleptomania

Pengalaman tempo hari, mengikuti program character building di Bandung begitu berkesan. Banyak kisah dan pengalaman baru yang saya peroleh.

“Mulai dari hidup sekamar dengan penderita HIV, hampir mati tenggelam dalam jelajah alam, hingga mengenal apa itu kleptomania”

Bagi kalian yang belum baca pengalaman saya bersama penderi HIV, silahkan klik link disini. Disana juga dijelaskan mengenai program seperti apa yang saya ikuti waktu itu.

Temanku Bubun

Selama program di Bandung, teman-teman kami berasal dari berbagai daerah. Salah satunya bernama Bubun (bukan nama sebenarnya). Peserta dengan usia paling muda, berusia dibawah 20 tahun. Berasal dari Cimahi dan berpostur tambun.

Bubun ini orangnya supel, mudah bergaul. Pembawaannya selalu ceria. Dia sering membuat lelucon atau bahkan malah sering dijadikan sebagai bahan lelucon oleh peserta lainnya.

Sebelum ikut program di Bandung. Bubun telah melalang buana pindah-pindah sekolah. Dari sekolah biasa hingga sekolah berbasis pesantren. Mulai dari pulau Jawa hingga pulau Kalimantan.

Bubun mengaku kalau dirinya ini males sekolah. “Terlalu banyak peraturan. Gak bisa bebas.”, katanya. Makanya dirinya sering pindah-pindah sekolah mulu.

Boros dan Egoisnya ABG

Bubun ini suka banget jajan. Dalam sehari, mungkin bisa hampir mencapai Rp 100.000,00. Sering sekali dia telfon kepada orang tuanya untuk minta uang. Padahal selama program, kami mendapatkan jatah makan sebanyak 2 kali dengan variasi menu yang cukup lengkap dan memadai standar gizi.

“Hemat Bun! Jangan minta uang mulu, apalagi cuma buat jajan. Kasihan orang tua”

Kami sebagai teman yang lebih tua sering menasihatinya. Mungkin karena masih ABG,  jadi kurang  bisa mengontrol emosi serta perasaan egois dirinya.

Teman-teman seklompok sering mendapati Bubun ngambek gara-gara hal sepele. Misalnya ditegur karena rame. Pernah juga dia ngambek gara-gara kita ingatkan dia tidak menaruh bekas tempat makanan sebagai mana mestinya.

Perangai Bubun

Walaupun sering bertingkah tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh teman-teman, kami tidak pernah memusuhi Bubun. Kami menganggapnya sebagai sebuah kenakalan remaja biasa. “Ya memang lagi masa-masanya seperti itu.”

Namanya juga remaja, sering kali mereka kurang teliti dalam mempersiapkan kebutuhannya sendiri. Walaupun panitia program sudah memberikan daftar barang yang wajib dibawa, masih saja Bubun kelupaan membawa barang-barang tertentu.

Tak hayal, kalau tidak beli pasti Bubun bakal pinjam kepada temannya. Satu hal yang kurang kami suka dari kebiasaannya, Bubun sering kali tidak meminta ijin dan merawat apa yang dipinjamnya.

Saya sendiri pernah menjadi korbannya. Suatu pagi tiba-tiba sepatu saya tidak ada pada tempatnya, padahal saat itu mau dipakai. Beberapa hari kemudian, saya temukan sepatu saya sudah rusak. Kontan saja, hal ini saya tanyakan kepada semua teman. Siapa yang kemarin memakai dan meminjamnya?

“Ooo.. Kirain itu sepatu peninggalan angkatan lama yang tidak dibawa pulang. Jadinya langsung saya pakai.” Jawab Bubun tanpa meminta maaf telah merusak sepatu saya.

Tak habis pikir saya terhadap tingkahnya. Kok bisa-bisanya bertingkah seperti itu.

Barang Hilang dan Bang Zidan

Sekitar seminggu menjelang program akan berakhir, camp kami dihebohkan dengan kasus hilangnya seluruh handphone peserta dalam satu camp. Tidak tanggung-tangguh sekitar 19 handphone hilang. Hanya tersisa 1 buah Iphone, itupun sudah berpindah jauh dari tempat penyimpanannya.

“Mungkin si pencuri tahu, bakal berbahaya dan bisa ketahuan kalau mencuri Iphone. Sebab bisa dikunci dan dilacak keberadaanya.”

Handphone kami bisa hilang secara bersamaan, karena saat itu handphone kami dikumpulkan dan disimpan jadi satu di ruang pelatih. Saat kejadianpun lemari pelatih dalam keadaan terbobol.

Otomatis, intuisi kamipun langsung mengarah kepada Bang Zidan. Panitia langsung memanggil Bang Zidan yang sudah balik karena telah mengundurkan diri untuk kembali ke Bandung. Panitiapun kemudian mengintrogasi  dirinya.

“Ternyata, e… ternyata… Bukan bang Zidan pelakunya.”

Bang Zidan sampai nangis-nangis dan bersumpah.

“Walaupun saya ini orang jahat, tapi bukan saya pelakunya. Sumpah…!”

Sepertinya Bubun Mengidap Kleptomania

Keesokan hariya, seluruh peserta dikumpulkan. Semua peserta diintrograsi termasuk saya. Namun tetap tidak ada yang mengaku. Kemudian salah satu teman bilang, “Apakah mungkin Bubun pelakunya, sebab beberapa hari sebelum kejadian dia balik kesini bersama temannya untuk mengambil barangnya.”

Perlu diketahui, sebelum kejadian kehilangan handphone terjad Bubun memang sempat kabur dari program. Pergi tanpa ijin panitia. Dirinya cerita kepada salah satu teman, kalau dia merasa penat mengikuti program-program yang ada

Akhirnya berbekal Iphone yang masih ada, salah satu teman berusaha menghubungi Bubun via facebook. Dia dimintai datang sebentar ke Bandung karena ada hal yang mendesak dan penting. Tapi dia merespon dengan jawaban tidak bisa karena sedang bepergian.

Saat salah satu temen stalking dan melihat-lihat wall facebook Bubun, semua pun kaget.

“Busyet… inikan baju saya.”

“Lha ini jam tangan saya.” sahut yang lainnya

“Lho, itu topi saya kok juga bisa ada sama dia?” sahut yang lainnya lagi

Semua heboh dan tidak terpaya. Dalam beberapa postingan foto Bubun di akun facebooknya, ternyata barang-barang yang dipakainya adalah punya kita (teman satu camp). Mulai dari topi, jam tangan, kaos, sampai gelang dan kalumg.

Kemudian Bubun ditelfon oleh panitia, namun dia tetap tidak mau mengakui kesalahannya. Dia beragumen bahwa barang-barang yang disebutkan adalah barangnya sendiri, dia beli sendiri.

Tapi kami juga yakin dengan pendapat kami, karena setelah dicek memang banyak yang kehilangan barang. Bahkan lebih banyak korbannya dan jenis barangnya lebih beragam daripada yang disebutkan diatas.

Karena perbuatan ini sudah merugikan banyak pihak, akhirnya orang tua Bubun pun dipanggil. Proses pengembalian barang dan ganti rugipun diselesaikan secara kekeluargaan.

“Kayaknya dia kleptomania”

Kleptomania

Istilah kleptomania berasal dari Bahasa Yunani, kleptein “mencuri”. Termasuk ke dalam jenis gangguan mental. Dimana membuat penderitanya tidak bisa menahan diri untuk mencuri.

Penderita akan merasakan kenikmatan setelah mencuri, walaupun biasanya tetap tegang sebelum melakukannya. Tindakan ini tidak saya dengan tindakan mencuri biasa.

Tindakan mencuri biasa, disebabkan oleh didorong oleh motivasi mencari keuntungan. Sedangakan kleptomania tidak. Bahkan sering kali dilakukan tanpa perencaan sebelumnya.

Barang yang diambil biasanya juga barang yang dianggap tidak berharga dan terkesan remeh temeh (seperti pena, sisir, jepitan rambut, atau barang-barang lainnya).

Penanganan Kleptomania

Penyakit ini pada umumnya muncul pada masa puber sampai dewasa. Bisa disembuhkan. namun dalam beberapa kasus, kleptomania diderita seumur hidup. Mayoritas diderita perempuan, tapi tidak menutup kemungkinan juga diderita laki-laki.

Penderita kleptomania sebaiknya segera diobati, agar tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain maupun si penderita. Proses penyembuhan dilakukan melalui terapi psikologi yang disertai pemberian obat-obatan.

Sering kali ditemukan dalam banyak kasus. si penderita tidak mau diobati. Biasanya karena merasa malu. Oleh sebab itu, tekad yang kuat untuk sembuh dan kebersediaan mengikuti saran yang diberikan oleh dokterlah yang akan menjadi poin terpenting, dalam penentuan keberhasilan pengobatan penderita kleptomania.

Bagi kita, orang yang berada disekitar penderita kleptomania. Sudah seharusnya kita memberi nama atau tanda terhadap barang-barang kita.

“Kecuali kita sudah ikhlas, barang-barang kita diambil dan dipakai oleh mereka”

Orang sudah diberi tanda saja, kadang barang kita tetap diambil. Bahkan ketika kita menjelaskan barang tersebut adalah barang kita, sesuai dengan tanda yang kita berikan. Justru kita yang dituduh mau mengambil barang tersebut darinya.

 

 

Leave a Comment