Yogyakarta, Surganya Pencinta Modus

Yogyakarta, Surganya Pencinta Modus

Mendengar kata Jogja atau Yogya. Saya yakin pasti kata tersebut tidak asing bagi kalian. Tidak hanya tahu, besar kemungkinan dari kalian pasti juga punya kisah akan kota ini. Mayoritas orang tahu dan punya kisah Jogja karena pernah berwisata atau menempuh pendidikan disini. “Ya, Jogja dikenal sebagai kota wisata sekaligus kota pendidikan”

Anies Baswedan bilang “Semua sudut kota Jogja itu romantis”

“Jogja adalah saksi mata ribuan sarjana yang diwisuda” kata Najwa Shihab

Komunitas Terbesar di Jogja

Jogja adalah surganya komunitas. Tak terhitung berapa jenis dan berapa banyak jumlahnya. ICJ adalah salah satunya.

ICJ atau akronim dari Info Cegatan Jogja merupakan komynitas yang berawal dari grup facebook. Dibuat secara swadaya oleh masyarakt, sebagai sarana bertukar informasi sekitaran Jogja.

Berfokus menyebarluaskan informasi lokasi operasi lalu lintas oleh pihak kepolisian. Diharapkan, masyarakat bisa mempersiapkan perlengkapan berkendaraannya ketika akan melewati lokasi terkait.

Seiring berkembangnya waktu. ICJ tidak hanya berfokus kepada informasi operasi lalu lintas. Informasi yang disebarkan berkembang hingga masalah seputar destinasi wisata, layanan pertolongan darurat, kriminalitas dan sebagainya.

Saya sendiri, baru sekitar 2 tahun bergabung dengan grup facebook ICJ. Tidak terhitung berapa banyak informasi bermanfaat yang saya peroleh.

“Hampir setiap minggu, ada saja member ICJ yang memposting informasi tentang tindak penipuan. Kami sering menyebutnya tindakan modus.”

Dibandingkan kota besar lainnya, kondisi Jogja sebenarnya relatif lebih aman dan kondusif. Jarang terdengar terjadi tindak kekerasan maupun keributan sebagaimana yang terjadi di daerah lain.

Namun tindak penipuan ini bisa dibilang cukup parah (sering terjadi) di Jogja. Modus operandinya adalah dengan meminta bantuan finansial. Biasaya mereka beralasan sebagai korban penipuan atau korban kecopetan.

Menjadi Korban Termodusi

Hidup 4 tahun di Jogja, begitu banyak kisah dan pembelajaran yang saya peroleh. Masyarakat Jogja itu terpelajar, namun masih tetap menjunjung tradisi. Orang-orangnya ramah dan bersahaja, sehingga banyak pendatang yang merasa nyaman.

Setiap kisah, pasti ada yang berakhir dengan bahagai dan ada pula yang berakhir diluar yang diharapkan. “

“Kisah diluar yang diharapkan, saya rasa lebih baik untuk dibagikan. Sehingga, orang lain bisa mengambil pelajarannya. dan menghindari terjadi pula pada dirinya.”

Modus Korban Kecopetan

Kisah pertama saya temodusi terjadi sekitar tahun 2016. Terjadi di masjid kampus, menjelang waktu shalat dzuhur.

Pelaku seorang laki-laki, datang bersama adik perempuannya yang berkebutuhan khusus. Mengaku korban penipuan lowongan kerja, selain itu dia juga kecopetan. Ingin balik ke Jakarta untuk membawa pulang adiknya sudah tidak punya ongkos. Semua dompet beserta isinya  ikut hilang termasuk handphone yang dimilikinya.

Pelaku menunjukkan surat kehilangan dari kapolsek tersedat dan berniat meminjam uang. Dia minta kontak saya yang bisa dihubungi agar memudah dalam berkomunikasi terkait pengembalian uang.

Saya pinjami uang melebihi yang diminta, dengan harapan bisa berguna tidak hanya untuk transportasi tapi juga untuk konsumsi.

E… keesokan harinya dia langsung mengkontak saya via SMS. Berniat meminjam uang lagi dengan berbagai alasannya yang tidak masuk akal. Saya jawab SMS pelaku dengan berbaik sangka, tapi saya yakin saya sudah menjadi korban sandiwaranya.

“beberapa bulan kemudian, saya melihat pelaku masih berada di Jogja dan sedang berada di Halte Trans Jogja kampus sebelah.”

Yo wislah nglamat ketipu temenan aku

Modus Obat Tidak Tercover BPJS

Pengalaman pernah tertipu pada waktu sebelumnya membuat saya lebih waspada terhadap orang lain yang meminta bantuan. Beberapa bulan setelah penipuan pertama, saya hampir ditipu lagi dengan modus operansi yang hampir sama.

Waktu itu saya lagi main di Masjid Gede Kauman Jogjakarta. Ketika sedang duduk-duduk di serambi masjid, tiba-tiba seorang bapak-bapak mendekati saya. Sang bapak memulai membuka percakapan dan kita saling memperkenalkan diri.

Tak berapa lama, bapak tersebut mengutarakan hajatnya. Anaknya sedang dirawat di rumah sakit. Namun BPJS tidak menanggung salep yang dibutuhkan anaknya. Karena tidak punya uang, beliau menawarkan handphone jadulnya (monophonic) kepada sata untuk dibeli.

Saya lupa berapa penawaran beliau, kurang lebih sekitar Rp 500.000,00. Tiba-tiba saya curiga jangan-jangan ini modus belaka dan hanya ingin menipu.

“Maaf pak. Saya tidak membutuhkan barang tersebut. Saya rasa lebih baik bapak tawarkan di toko HP saja, insyaallah bakal laku”

“Wah, saya tidak tahu toko HP disekitar sini dek. Saya juga tidak tahu cara jualnya.”

“Yasudah mari saya antar pak”

Penawaran saya ditolak oleh bapak tersebut. Beliau meminta saya saja yang membelinya. Bahkan sekarang harga belinya terserah kemauan saya. Karena tidak butuh, saya tetap tolak penawaran beliau.

Sang bapak kemudian sedikit mengeluh kepada saya. Kenapa menolak dimintai tolong? Padahal uang hasil penjualan mau digunakan untuk membeli salep untuk anaknya.

“Ini dek, kalau tidak percaya. Ini resep obat sama salep yang dibutuhkan. Cuma salepnya tidak ditanggung BPJS karena harganya mahal. Ini KTP saya dan ini bukti pembayaran BPJS yang sudah saya bayarkan kemarin.”

“Silahlan dicek. Data-datanya beda atau tidak? Kalau masih tidak percaya dan mengira saya bakal menipu?” tambah sang bapak.

Saya merasa tidak pernah menuduh beliau bakal menipu. Bahkan jawaban sayapun kata-katanya sudah saya pilih secara hati-hati agar tidak menyinggung beliau. Tidak habis pikir saya, kenapa beliau bisa berkesimpulan demikian.

Saya merasa itu adalah cara beliau mengintimidasi saya, agar merasa tidak enak dan akhirnya mau membeli handphonenya.

“Ini dek, silahlan cek struk pembayaran BPJS dan KTP saya!” seru beliau sambil menyodorkannya kembali kepada saya. Sambil sedikit jengkel dan terpaksa. Akhirnya saya ambil dan saya lihat.

“lha ini, kok bayarnya cuma segini pak?” Tanya saya kepada beliau. Ada yang aneh dalam struk struk pembayaran BPJS-nya. Jumlah tagihan yang dibayarkan tidak sesuai dengan ketentuan peraturan terbaru.

Dalam struk pembayaran beliau tertulis Rp 59.500,00, padahal sudah lama pemerintah memperbaruinya menjadi Rp 80.000,00. Hal yang aneh dan janggal.

Peraturan baru sudah diterapkan lama, sedangkan beliau baru membayarnya beberapa hari kemarin. “Kok bisa beda?”

Beliau berusaha ngeles. Saya sendiri biasa mengurus pembayaran BPJS, sehingga sangat yajin ada yang kurang beres. Saya perlihatkan kepada beliau informasi peraturan terbaru disertasi history rekening pembayaran yang ada dalam handphone saya.

“maaf pak, bukan bermaksud saya menuduh bapak. Tapi kayaknya bapak telah ditipu sama petugas tempat bapak membayar BPJS. Takutnya salep yang dibutuhkan anak bapak tidak ditanggung BPJS karena sebenarnya anda belum membayarnya.”

Saya berusaha menjelaskan dengan sangat hati-hati, agar beliau tidak merasa tersinggung maupun tertuduh berencana menipu. Di sisi lain, saya sendiri yakin beliau ada niat untuk menipu.

“Kok bisa ya?” kata si bapak sambil mengambil bukti-bukti kertas yang disodorkan kepada saya sebelumnya.

Tidak lama kemudian beliau geser menjauhi saya, sambil melihat kertas-kertas yang dibawanya. Tanpa salam pamit, beliaupun nyelonong langsung pergi.

“yaelah pak, mau menipu kok kurang teliti.”

Saya sendiri mengalami hal semacam ini sekitar 5 kali. Pola modus operandi mereka sebenarnya tidak jauh berbeda antar pelaku. Minta tolong, kemudian minta uang.

“Jangan kapok membantu orang. Bantulah mereka sesuai kemampuan kita dan sesuaikan dengan kebutuhan mereka. Jangan diberi uang tunai!”

“Kalau ada orang belum makan, belikan dia makanan. Kalau ada orang tidak bisa pulang karena tidak ada ongkos, belikan dia tiket!”

“Jangan kasih uang tunai! Titik”

Itulah kuncinya agar terhindar menjadi korban para pelaku modus.

 

 

Leave a Comment